Senin, 01 Februari 2016

154



Shi Li-zi. Ibu tirinya sekarang adalah Bhikkhuni You-ni. Kedua abang si anak sekarang adalah Shan-you dan Dadi. Shi Li-zi oleh karena pada kehidupan lampaunya melakukan karma buruk menfitnah ibu tirinya, selama beribu-ribu tahun jatuh ke Neraka. Setelah selesai menjalani siksaan di Neraka, selama 500 kehidupan selalu mengalami fitnahan, meskipun sekarang telah mencapai tingkat kesucian Arahat, masih difitnah. Dari sini harus diketahui : Diri sendiri yang menanam benih karma buruk, diri sendiri pula yang harus menerima buah pahitnya”.   

(Kisah Bhikkhu Shi Li-zi tercantum di “Mulasarvastivada-vinaya” bagian 13, 14)


153


semoga dapat bertemu dengan seorang Maha Guru yang memiliki kewibawaan yang melampaui suciwan ini”.

Buddha Sakyamuni membabarkan sampai di sini, lalu bertanya pada para Bhikkhu : “Apakah kalian mengetahuinya? Pada masa kelahiran lampau, ketua kelompok pedagang yang bernama Yu-ren itu, sekarang adalah Shi Li-zi. Oleh karena pada masa kelahiran lampaunya memberi persembahan pada Pratyeka Buddha, mengikrarkan tekad dan melimpahkan jasa, maka itu terlahir di keluarga yang kaya dan agung yakni di keluarga raja, memiliki harta berlimpah, segala keperluan berkecukupan, di dalam DharmaKu meninggalkan keduniawian dan berhasil mencapai Arahat. Saya sebagai Maha Guru, melampaui ratusan bahkan ribuan koti Pratyeka Buddha yang dia berikan persembahan pada masa kehidupan yang lampau”.

Buddha Sakyamuni melanjutkan membabarkan pada para Bhikkhu : “Shi Li-zi telah mencapai Arahat, tetapi mengapa masih mengalami fitnahan? Penyebabnya adalah : Pada masa kehidupan lampau yang tak terhingga, akibat pengaruh ibu kandungnya yang iri hati, ketika dia masih berusia lima tahun pernah menganggukkan kepala menjadi saksi palsu untuk mengkhianati ibu tirinya”.

Buddha Sakyamuni melanjutkan lagi membabarkan : “Anak yang menjadi saksi palsu itu sekarang adalah 


152



harta karun, Saya telah meninggalkan keduniawian dan tidak memiliki keinginan, bagaimana bisa mengikuti kalian berlayar bersama di lautan besar?”

Pada saat itu, ketua kelompok pedagang menghidangkan sajian istimewa untuk dipersembahkan, juga dengan kain berkualitas bagus untuk dipersembahkan kepada Bhikkhu ini.  

Bhikkhu Pratyeka Buddha hanya menampilkan kemampuan gaib, dan tidak memberi ceramah Dharma kepada dermawan. Pratyeka Buddha yang demi mengasihi si ketua pedagang, menampilkan berbagai jenis kemampuan gaib. 

Ketua pedagang yang melihat penampilan kemampuan gaib Bhikkhu tersebut, segera bernamaskara lalu mengikrarkan tekad : “Semoga pahala yang saya peroleh dari memberi persembahan pada Suciwan, pada kelahiran yang akan datang, saya dapat terlahir di keluarga kaya dan agung,