Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 051~075. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 051~075. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2016

075



074



menampilkan senyum, anda haruslah mendengarnya dengan seksama”.

Ananda! Raja Ding Ji dari Kota Shengyin, oleh karena mendengar hasutan pejabat penjilat, ayahandanya yang telah mencapai Arahat, yang tidak bersalah pada dirinya, tetapi malah begitu tega membunuhnya, dengan demikian dia pasti jatuh ke Neraka Avici”.  

Ananda berkata : “Bhagava! Bhikkhu Xian Dao mencapai Arahat, apakah kini telah dibunuh?”

Bhagava menjawab : “Bhikkhu Xian Dao telah dibunuh”.

Pada saat itu, Ananda yang mendengar ucapan Buddha yang mengatakan bahwa Bhikkhu Xian Dao telah dibunuh, amat bersedih hati, air mata mengalir memenuhi wajahnya!

Setelah penjagal membunuh Xian Dao, kemudian membawa kepala dan jubahnya kembali ke Kota Shengyin. Pada saat itu dua pejabat penjilat, yang melihat kepala raja terdahulu, beserta jubah dan patranya, merasa amat bersukacita, segera menghadap dan menyampaikan kabar ini kepada Raja Ding Ji : “Paduka! Anda sekarang boleh membuat perayaan, negeri kita sudah tidak memiliki musuh lagi”.

Raja berkata : “Siapa yang merupakan musuhku?”


073


Bila membabarkan tentang Alam Manusia, cahaya akan masuk melalui lutut;
Bila membabarkan tentang Raja Bala-cakravartin, maka cahaya masuk melalui telapak tangan kiri;
Bila membabarkan tentang Raja Chakravartin, maka cahaya akan masuk melalui telapak tangan kanan;
Bila membabarkan tentang Alam Surga, maka cahaya masuk melalui pusar;  
Bila membabarkan tentang Sravaka, maka cahaya akan masuk melalui mulut;
Bila membabarkan tentang Pratyeka Buddha maka cahaya akan masuk melalui titik di dahi diantara kedua alis mata;
Bila membabarkan tentang Anuttara-samyak-sambodhi, cahaya masuk melalui puncak kepala.

Seperti saat sekarang ini, cahaya mengelilingi Bhagava sebanyak tiga kali lalu masuk kembali melalui telapak kaki Buddha, pada saat itu Yang Ariya Ananda mengetahui bahwa Buddha Sakyamuni akan membabarkan hal yang berkaitan dengan Alam Neraka, sehingga beranjali memberi hormat, berkata : “Bhagava! Tathagata tiba-tiba tersenyum, hal ini bukanlah tanpa sebab”.

Ananda mengucapkan gatha untuk memohon pada Buddha Sakyamuni agar membabarkan Dharma.

Buddha Sakyamuni memberitahu Ananda : “Benar! Ini memang merupakan sebuah jalinan jodoh, Tathagata


072


  angkasa terdengar suara yang mengucapkan gatha :
“Kekuatan karma yang tak terbayangkan,
meskipun berada jauh juga dapat ditariknya,
ketika buah karma telah masak,
sulit untuk menghindarinya”.

Ketika Bhikkhu Xian Dao dibunuh, Buddha Sakyamuni sedang berada di Vihara Hutan Bambu (Veluvana Arama), tiba-tiba tersenyum, dari mulutNya terpancar cahaya lima warna, di dalam cahayaNya membabarkan Dukkha (penderitaan), Sunyata (kekosongan), Anicca (ketidakkekalan), Anatta (tanpa aku) dan Dharma lainnya.

Setelah cahaya ini mengelilingi tiga ribu maha ribu dunia, kemudian kembali pada tempat keberadaan Buddha Sakyamuni.

Para Buddha Tathagata memiliki sebuah ketetapan umum yaitu :
Ketika Buddha akan membabarkan tentang masa kehidupan lampau, maka cahaya akan masuk melalui pundak Buddha;
Bila membabarkan tentang masa kelahiran yang akan datang, maka cahaya akan masuk melalui dada;  
Bila membabarkan tentang Neraka, maka cahaya akan masuk melalui telapak kaki;
Bila membabarkan tentang Alam Binatang, cahaya akan masuk melalui tumit kaki;
Bila membabarkan tentang Alam Setan Kelaparan, cahaya akan masuk melalui jari kaki;


Minggu, 24 Januari 2016

071


yang akibatnya jatuh ke Neraka Avici) yakni :
    1.    Membunuh ayah
    2.   Membunuh Arahat
Akibatnya pasti jatuh ke Neraka Avici menjalani siksaan berat. Tetapi apabila membangkitkan ketulusan giat melakukan pertobatan atas dosa-dosanya, maka mungkin bisa meringankan buah akibat karma buruknya”.

Xian Dao berpikir : “Saya seharusnya terbang ke angkasa, jangan sampai Ding Ji oleh karena membunuhKu sehingga harus memikul akibat karma yang amat berat. Dengan membangkitkan pikiran benar, hendak menampilkan kemampuan gaib. Namun akhirnya, oleh karena ada niat memohon kondisi batin tersebut, kondisi batin yang kacau balau hingga aksara kemampuan gaib juga tidak sanggup dipikirkan keluar, akhirnya kemampuan gaib tidak mampu ditampilkan keluar.

Dia berpikir lagi : “Bhagava mengajariku untuk merenungi bahwa kekuatan karma tidak bisa dihindari. Lalu mengucapkan gatha sebagai berikut : “Meskipun telah melewati ratusan kalpa, benih karma yang ditabur takkan hilang, ketika benih sebab dan faktor pendukung bertemu, buah akibatnya juga harus diterima sendiri”.


Pada saat itu, tukang jagal mencabut pedangnya dan memenggal kepala Bhikkhu Xian Dao. Saat itu di


070


“Baiklah! Pergilah menyelesaikan urusanmu itu!”

Bhikkhu Xian Dao duduk bersila di bawah sebatang pohon, mengamati bahwa dunia ini adalah dukkha (penderitaan), sunyata (kekosongan) dan anicca (tidak kekal), sehingga kemudian mencapai tingkatan kesucian Arahat.

Terhadap kemelekatan akan kasih sayang, ketenaran, perasaan ingin dihormati, tiada yang tidak dilepaskannya, mencapai kebahagiaan pembebasan. Setelah mengucapkan gatha, Xian Dao memberitahu kelompok penjagal : “Insan bijak! Apa yang ingin Saya lakukan sudah selesai Kuwujudkan, sekarang kalian boleh melakukan sesuai dengan keinginan kalian!”.

Penjagal berkata : “Paduka! Setelah saya pulang nanti, apabila Raja Ding Ji bertanya : Apa pesan ayahandaku sebelum wafat? Apa yang harus kami sampaikan padanya?”

Kalian sampaikan saja gatha ini kepadanya :
“Anda melakukan banyak karma buruk,
membunuh ayah mendambakan tahta,
Saya berhasil mencapai Nirvana,
anda jatuh ke Neraka Avici”

Bhikkhu Xian Dao melanjutkan berkata : “Kalian boleh memberitahu Ding Ji bahwa dia telah melakukan dua butir dari Pancanantariya Karma (lima perbuatan



069



“Betul!”

Bhikkhu Xian Dao berpikir : Benar-benar serupa dengan apa yang diucapkan Bhagava : “Harus merenungkan bahwa kekuatan karma sulit dihindari”. Ternyata ada sebabnya, barulah Buddha mengucapkan kalimat tersebut.

kemudian Xian Dao berkata pada kelompok penjagal : “Ketua yang bijak! Kalian beristirahatlah sejenak, meskipun saya sudah meninggalkan keduniawian, tetapi masih ada satu hal yang belum saya selesaikan, mohon tunggulah sebentar”.


068



bersiap-siap pulang ke Kota Shengyin”.

Buddha Sakyamuni memberitahu Bhikkhu Xian Dao : “Pergilah sesuai dengan kehendak hatimu, tetapi haruslah senantiasa merenungkan, kekuatan karma sulit dihindari”.

Setelah bernamaskara mohon pamit pada Bhagava, Bhikkhu Xian Dao berangkat pulang ke Kota Shengyin. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan gerombolan tukang jagal yang diutus untuk membunuhnya, namun kelompok penjagal ini mengenali Bhikkhu Xian Dao adalah raja mereka yang terdahulu, sehingga mereka berkata pada Xian Dao dengan nyanyian :
“Dimanakah raja kami yang pemberani? Ding Ji tidak menginginkan raja terdahulu hidup, sehingga mengutus kami untuk membunuhnya, kini nyawa raja terdahulu akan segera berakhir dan tidak memiliki jalan keluar lagi untuk menyelamatkan diri”.

“Kalian adalah utusan Raja Ding Ji untuk membunuhku?”


067




Raja Ding Ji berkata : “Jadi apa yang harus kita lakukan?”

Pejabat penjilat berkata : “Utus orang untuk membunuhnya”.

 Raja Ding Ji berkata : “Bhikkhu Xian Dao adalah ayahandaku, bagaimana boleh timbul niat pikiran membunuhnya?”

Pejabat penjilat terus menghasut dengan kata-kata bohong, sehingga kemudian raja jadi percaya pada hasutannya.

Raja Ding Ji membiarkan pejabat penjilat menggunakan emas dan uang untuk membeli sekelompok tukang jagal, untuk membunuh raja terdahulu (Bhikkhu Xian Dao).

Pada waktu itu, Bhikkhu Xian Dao baru menyelesaikan masa vassanya, menuju ke hadapan Buddha Sakyamuni, melakukan namaskara, dengan hormat menyampaikan pada Buddha : “Bhagava! Saya sedang 


066



barulah pulang untuk menasehati Raja Ding Ji”.

Pedagang melakukan namaskara pada Bhikkhu Xian Dao, lalu pulang ke Kota Shengyin, memberitahu pada para penduduk kota : “Mantan raja kita yang terdahulu, tidak lama lagi akan pulang untuk menasehati raja kita yang sekarang ini, menasehatinya supaya jangan menindas rakyat lagi”.

Pada saat itu pejabat penjilat juga mendengarnya, dia menghasut Raja Ding Ji : “Paduka, apakah anda mengetahuinya? Raja terdahulu berniat kembali untuk menduduki kembali tahtanya”.

Raja Ding Ji berkata : “Ayahanda beta telah meninggalkan keduniawian, bagaimana mungkin masih serakah akan tahta kerajaan?”

Pejabat penjilat berkata lagi : “Justru keserakahan raja tua begitu berat, makanya merasa menyesal”.


065




Suatu hari, ketika Bhikkhu Xian Dao sedang berpindapatra, bertemu dengan seorang pedagang dari Kerajaan Shengyin, Xian Dao bertanya : “Apakah raja Kerajaan Shengyin, Raja Ding Ji, para pejabat dan pasukan prajurit,  keadaan mereka baik-baik saja? Apakah keadaan pemerintahan dalam negeri aman dan sejahtera?”

Pedagang itu  menjawab : “Raja dan para pejabat serta pasukan prajurit berada dalam kondisi selamat, Tetapi meskipun paduka raja tidak memiliki sisi lain yang menakutkan, namun beliau memerintah secara tidak manusiawi”.

Pedagang menceritakan bagaimana perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan Raja Ding Ji, menggunakan dua pejabat penjilat untuk menindas rakyat, kepada sang mantan penguasa.

Bhikkhu Xian Dao setelah mendengar penuturan dari pedagang, berkata : “Anda pulanglah ke Negeri Shengyin dan sampaikan kepada seluruh rakyat supaya jangan cemas, menanti hingga saya selesai melewati masa vassa selama tiga bulan ini,


064


Kisah Bhiksu Xian Dao

Kekuatan Karma Sulit Terhindarkan

Pada jaman dahulu kala, di India terdapat Kerajaan Shengyin, rajanya bernama Xian Dao, setelah menyerahkan tahta kerajaannya kepada putra mahkota yang bernama Ding Ji, datang ke Kerajaan Rajagaha, dengan didampingi Raja Bimbisara, menuju Vihara Hutan Bambu (Veluvana Arama) untuk bertemu dengan Buddha Sakyamuni.

Raja Bimbisara memberitahu pada Bhagava : “Beliau ini adalah raja Kerajaan Shengyin yang bernama Xian Dao, memohon dapat ditabhiskan menjadi anggota Sangha, mengamalkan Sila KeBhikkhuan, menjalani hidup sebagai anggota Sangha, mohon Bhagava bermaitri karuna membimbingnya”.

Bhagava memberitahu Raja Xian Dao : “Mari Bhikkhu! Menjalani kehidupan Sramana”.

Raja Xian Dao yang begitu mendengar ucapan Buddha, seketika juga rambutnya gugur dengan sendirinya, jubah melekat pada tubuhnya, patra berada di tangannya, berwibawa tampak serupa Bhikkhu yang telah senior. Kemudian menjalani kehidupan bersama dengan para anggota Sangha lainnya, menjalani kehidupan berpindapatra.


063


Maka itu orang yang baik ucapan, tindakan dan pikirannya tidak suci, takkan memperoleh kemampuan gaib yang benar, namun yang mereka peroleh adalah kekuatan gaib Mara. Oleh karena orang yang berhati tidak baik, perbuatannya juga tidak baik, buah akibat yang harus diterimanya adalah siksaan, jadi bagaimana mungkin bisa memiliki kemampuan gaib yang benar?

Orang yang tidak yakin pada Hukum Karma adalah orang yang paling kasihan di dunia ini. Kabarnya ada penganut aliran sesat, oleh karena tidak senang pada Bhiksu yang menceramahkan kebenaran, sehingga timbul kebencian, giat melatih ilmu sesat, bahkan bersumpah : “Tunggu sampai rohku berhasil keluar dari tubuh kasar ini, hal pertama yang akan kulakukan adalah membunuh si Bhiksu……”.

Orang jahat dan sesat yang tidak percaya pada Hukum Karma ini, kebodohannya (moha) sungguh mendalam. Tidak melatih karma baik yang dilakukan lewat tindakan, ucapan dan pikiran, meskipun hanya memperoleh secuil kesaktian Mara, namun takkan terlepas dari buah akibat karma buruknya, sulit terhindar dari siksaan penderitaan.


062




(Kisah Yang Ariya You Tuo-yi tercantum pada “Mulasarvastivada-vinaya” bagian 43)
   
Dari masa kehidupan lampau dan masa kehidupan sekarang You Tuo-yi, kita dapat mengetahui bahwa buah akibat karma baik dan karma buruk adalah bagaikan bayangan yang mengikuti diri. Melakukan perbuatan baik akan memperoleh pahala, melakukan karma buruk akan menjalani penderitaan, baik buah akibat karma baik maupun buruk, sedikitpun takkan pernah meleset.

Seorang praktisi yang melatih di jalan yang benar, ketika mencapai jhana keempat, dengan sendirinya akan memperoleh kemampuan gaib. Tetapi kemampuan gaib ini tidaklah serupa dengan ilmu sulap maupun ilmu gaib yang sesat. Kemampuan gaib yang benar adalah digunakan untuk menyelamatkan para makhluk dari lautan penderitaan, sedangkan ilmu gaib aliran sesat digunakan untuk mencelakai para makhluk.


061


Buddha Sakyamuni melanjutkan membabarkan : “Kalian seharusnya mengetahui : Apa yang menjadi penyebabnya sehingga Bhikkhu You Tuo-yi menjadi Bhikkhu yang terunggul dalam mengajari dan menyelamatkan orang lain? Ini dikarenakan pada masa kelahiran lampaunya yakni ketika Buddha Kassapa membabarkan Dharma di dunia, dia meninggalkan keduniawian dan menjadi guru Dharma, pintar berceramah, mengajari para makhluk hingga jumlah yang tak terhingga.

Oleh karena pada masa kehidupan lampaunya, dia meninggalkan keduniawian dan menjadi guru Dharma, menyelamatkan para makhluk yang tak terhitung jumlahnya, oleh karena jasa kebajikan ini, sehingga pada masa kelahiran sekarang di dalam organisasi Sangha ini, menjadi Bhikkhu yang terunggul dalam bidang pengajaran.

Maka itu para Bhikkhu (termasuk juga umat berkeluarga), seharusnya merenungkan buah akibat dari karma baik dan karma buruk, bagaikan bayangan yang mengikuti diri, selamanya takkan hilang.

Dari berbagai jasa kebajikan dari karma baik, kalian harus tekun menimbunnya; sedangkan karma buruk baik yang dilakukan melalui tindakan, ucapan dan pikiran, haruslah dijauhi, kalian harus melatihnya sedemikian rupa”.


Sabtu, 23 Januari 2016

060



Para Bhikkhu! Pengrajin tembikar itu sekarang adalah Bhikkhu You Tuo-yi, oleh karena karma buruk yang diperbuatnya pada masa kelahiran lampau, sehingga setelah menjalani siksaan di Neraka, selama 500 kali kelahiran selalu dibunuh, jasadnya dibuang ke dalam tumpukan kotoran.

Oleh karena pada waktu itu, dalam seketika dia membuat persembahan dan berikrar, kekuatan tekadnya menyebabkan dirinya pada masa kehidupan sekarang dapat bertemu denganKu dan mencapai Arahat; oleh karena karma ini, sehingga setelah memasuki Nirvana, memperoleh Saya Tathagata dan Sangha, raja dan para penduduk serta yang lainnya, juga berdatangan untuk memperabukan jasadnya dan membangun stupa untuk menyimpan reliknya”.


059


“Mengapa saya begitu dungu sehingga tidak mengenali insan suci dan bijak?”

Pengrajin tembikar menyadari bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk memakamkan jasad insan suci secara terhormat, maka itu dia pergi menghadap raja, memohon untuk mengadakan upacara perkabungan bagi insan suci tersebut.

Raja yang mendengar bahwa ada seorang suciwan besar yang wafat dalam kondisi sedemikian rupa, segera memerintahkan para pejabat dan para dayang istana, seluruh penduduk kota baik kalangan atas maupun biasa, melakukan upacara perabuan jasad suciwan lalu membangun stupa menyimpan relikNya.

Pengrajin tembikar membuat guci berwarna keemasan, yang berisi abu suciwan, sesuai dengan kemampuan sendiri membangun stupa di empat penjuru, bahkan mengikrarkan tekad : “Saya telah melakukan karma buruk berat yang bisa menyebabkan jatuh ke Neraka Avici, semoga takkan karena dosa ini sehingga saya harus jatuh ke Neraka; semoga jasa kebajikan dari persembahan ini, pada masa kelahiran mendatang, dapat bertemu dengan Maha Guru nan sempurna, memperoleh bimbinganNya secara langsung, takkan merasa lelah dan jenuh, mencapai kemampuan gaib yang bebas tanpa rintangan yang serupa dengan Yang Ariya”.

058



Pada saat itu pengrajin tembikar ini tidak mengenali insan suci dan bijak, membuangnya ke dalam tumpukan kotoran, Pratyeka Buddha yang oleh karena tubuhNya lemah sehingga menemui ajal.   

Pada saat itu, ada seorang Pratyeka Buddha lainnya, dengan menggunakan kemampuan gaib terbang ke angkasa, kebetulan melewati tempat kejadian tersebut, Dia melihat jasad Bhikkhu yang dibuang ke tumpukan kotoran, lalu turun dari angkasa, mempersembahkan beraneka ragam bunga harum.

Pengrajin tembikar yang melihat Suciwan ini sedang membuat persembahan untuk jasad insan suci yang dibuangnya, merasa heran, setelah bertanya barulah mengetahui bahwa ternyata anggota Sangha yang dicelakainya tersebut telah mencapai tingkat kesucian, pada saat itu dia merasa menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri :


057


sekarang adalah You Tuo-yi; pada saat itu dia telah melakukan karma pembunuhan, maka itu pada masa kehidupannya yang sekarang harus menerima buah akibatnya yakni dibunuh”.

(Ini menjelaskan bahwa apa yang ditanam itulah yang dipetik)

Buddha Sakyamuni melanjutkan lagi membabarkan pada para Bhikkhu : “Para Bhikkhu! Apakah kalian juga mengetahui karma apa yang diperbuat You Tuo-yi di masa kelahiran lampaunya sehingga pada masa kelahirannya yang sekarang mencapai Arahat, dibawah bimbinganKu secara langsung, lalu setelah dibunuh, jasadnya dibuang ke tumpukan kotoran, akhirnya memperoleh Buddha dan Sangha, raja dan para pejabat, Permaisuri Mallika dan dayang istana, masyarakat kota baik dari kalangan atas maupun biasa, menuju ke tempat tumpukan kotoran lalu mengangkat jasadnya keluar, dengan kereta permata memindahkan jasadnya ke tempat yang agung, setelah diperabukan, reliknya disimpan ke dalam stupa yang dibangun untuk dipuja?

Ini dikarenakan pada masa kehidupan lampaunya, ada seorang pengrajin tembikar melihat ada seorang anggota Sangha yang telah mencapai Pratyeka Buddha sedang jatuh sakit. Bhikkhu ini datang ke rumah pengrajin tembikar untuk berpindapatra.


056


memanah ke arah Bhikkhu tersebut dan mengenaiNya. Bhikkhu yang telah mencapai Pratyeka Buddha ini, terhadap pemburu yang dungu (moha), malah timbul rasa belas kasih (karuna), segera melompat ke angkasa dan menampilkan beragam kemampuan gaib.

Setelah pemburu menyaksikan berbagai kemampuan gaib ini, menyesali dan membenci amarah diri sendiri, dia menengadah ke atas dan berkata : “Saya adalah orang dungu yang tidak mengenal insan suci dan bijak, mohon turunlah, terimalah pertobatan dariku”.

Pada saat itu Pratyeka Buddha demi mengasihani si pemburu, barulah turun menerima pertobatannya, kemudian racun yang ada di dalam tubuhNya bereaksi, akhirnya meninggal dunia.

Pemburu memperabukan jenazah Pratyeka Buddha, kemudian membangun stupa guna menyimpan relikNya, setelah melakukan berbagai persembahan, dia berikrar : “Semoga saya takkan karena dosa membunuh insan suci sehingga jatuh ke Neraka; semoga pada masa kelahiran mendatang, saya dapat bertemu dengan Maha Guru nan sempurna (Buddha), bahkan dapat secara langsung memberi persembahan padaNya”.

Buddha Sakyamuni melanjutkan membabarkan : “Para Bhikkhu! Pada masa kehidupan lampau si pemburu ini