Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 126~150. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 126~150. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2016

150


Pada saat itu, para Bhikkhu bertanya pada Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Bhikkhu Shi Li-zi pada masa kehidupan lampaunya telah melakukan benih karma apa sehingga pada masa kehidupan sekarang terlahir di keluarga kaya dan agung? Lalu karma buruk apa yang telah diperbuat, setelah meninggalkan keduniawian dan mencapai Arahat, masih difitnah?”

Buddha Sakyamuni memberitahu para Bhikkhu : “Pada masa kehidupan lampau, di sebuah dusun terdapat seorang pedagang yang bernama Yu-ren, bersama dengan para pedagang lainnya membawa banyak barang dagangan, hendak berlayar ke lautan besar untuk mencari harta karun.

Pada saat itu ada seorang Bhikkhu yang telah mencapai Pratyeka Buddha, pada malam harinya memasuki samadhi dan memancarkan cahaya. 

Petugas ronda yang melihat cahaya tersebut melapor kepada ketua kelompok pedagang : “Apakah tuan mengetahuinya? Bhikkhu tersebut telah mencapai kesucian, saya melihat pada larut malam tubuhnya  serupa bola api yang memancarkan cahaya cemerlang”.

Ketua pedagang yang setelah mendengar laporan petugas ronda, amat menghormati Bhikkhu ini, bernamaskara padanya dan berkata :  “Suciwan! Setiap hari Anda berpindapatra, saya berniat memupuk berkah, 


149


Selama kurun waktu Buddha Sakyamuni memasuki samadhi, para Bhikkhu mewawancarai Shan-you dan Dadi, kedua Bhikkhu ini akhirnya mengakui dan menceritakan alasan mengapa mereka menfitnah Bhikkhu Shi Li-zi.

Sore harinya, Buddha Sakyamuni keluar dari samadhiNya, para Bhikkhu menceritakan tentang wawancara mereka pada Shan-you dan Dadi.

Buddha Sakyamuni membabarkan pada para Bhikkhu : “Mengapa Shan-you dan Dadi, dua orang ini hanya gara-gara persoalan sepele yakni hidangan makanan, lalu berbohong dan menfitnah Bhikkhu yang suci?”
  
Buddha Sakyamuni melanjutkan membabarkan pada para Bhikkhu : “Ketahuilah ada tiga jenis orang yang pasti jatuh ke Neraka :
1. Andaikata ada orang yang melanggar sila, menganjurkan orang lain juga melanggar sila, orang ini pasti jatuh ke Neraka.
2. Bila ada orang yang melakukan perbuatan asusila, tetapi menfitnah Bhikkhu yang suci, orang ini pasti jatuh ke Neraka. 
3. Andaikata ada orang yang berpandangan sedemikian, mengucapkan hal yang sedemikian, mengatakan nafsu indria adalah suci, mengatakan nafsu indria adalah menakjubkan, nafsu indria berguna, nafsu indria tidak ada salahnya, dari nafsu indria melakukan hubungan intim, maka orang ini pasti jatuh ke Neraka.



Minggu, 31 Januari 2016

148



Sang Buddha berkata : “Rahula! Kamu saja mengatakan tidak ingat, lantas bagaimana boleh menuduh Shi Li-zi, Bhikkhu yang suci, yang sesungguhnya tidak berdosa dan mengatakan lagi tidak ingat?”

Pada saat itu Buddha Sakyamuni memberitahu pada para Bhikkhu : ”Bhikkhu Shi Li-zi sesungguhnya tidak berdosa, kalian seharusnya mengetahuinya. Sebaliknya, Bhikkhuni You-ni yang telah berdusta telah melanggar peraturan, seharusnya dikeluarkan dari Sangha, juga menanyakan kejelasan secara terperinci pada Shan-you dan Dadi, bagaimana kalian melihat proses kejadian tersebut”.

Setelah menyelesaikan ucapanNya, Buddha Sakyamuni memasuki samadhi.


147



melanggar Parajika’. Lalu juga ada Shan-you dan Dadi yang jadi saksi mengatakan bahwa ucapan ini adalah benar adanya. Pada waktu ini, Saya bertanya padamu apakah hal ini benar atau tidak, bagaimana kamu menjawabnya?”

Rahula memberitahu Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Andaikata masih ingat maka mengatakan masih ingat, bila sebaliknya tidak ingat maka katakan tidak ingat”.


146


Shi Li-zi menjawab : “Bhagava, saya telah mendengarnya!”

Bhagava bertanya lagi : “Shi Li-zi! Katakanlah, apa yang telah terjadi?”

 Shi Li-zi menjawab : “Bhagava! Kenyataan yang sesungguhnya hanya Buddha yang mengetahuinya”.

Buddha Sakyamuni berkata : “Shi Li-zi! Sampai saat begini janganlah berkata sedemikian. Kalau memang ada maka mengakulah ada; sebaliknya kalau memang tidak ada maka katakanlah tidak ada”.

Shi Li-zi menjawab : “Bhagava, saya tidak ingat!”

Pada saat itu, Rahula yang bertugas mengipasi, berkata pada Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Kenapa harus bertanya pada Shi Li-zi? Bhikkhuni You-ni yang menyampaikan langsung kepada Bhagava tentang hubungan tidak sucinya dengan Shi Li-zi, melanggar Parajika. Dua abang adik juga menjadi saksi mengatakan bahwa hal ini adalah nyata adanya. Lantas apa lagi yang mau dikatakan?”

Buddha Sakyamuni memberitahu Rahula : “Saya bertanya padamu, Rahula! Andaikata ada Bhikkhuni yang datang ke hadapanKu lalu berkata : ‘Bhagava! Rahula telah melakukan perbuatan yang melanggar peraturan, dengan diriku melakukan hubungan tidak suci,


145



Akhirnya dengan terpaksa You-ni menyetujui permohonan abangnya.

Shan-you dan Dadi, dua Bhikkhu ini menuju tempat keberadaan Buddha Sakyamuni dan bernamaskara. You-ni juga datang ke hadapan Buddha Sakyamuni, setelah bernamaskara lalu berkata : “Bhagava! Shi Li-zi telah melakukan perbuatan yang melanggar peraturan, melakukan hubungan tidak suci dengan diriku, melanggar Parajika”.

Shan-you dan Dadi menyampaikan pada Sang Buddha : “Bhagava! Ucapan ini memang adalah benar adanya, seperti apa yang dikatakan adik kami, kami telah mengetahui sebelumnya”.

Pada saat itu, Shi Li-zi juga berada di tempat tersebut.

Buddha Sakyamuni bertanya pada Shi Li-zi : “Shi Li-zi, apakah kamu mendengar semua percakapan ini?”


144


tak peduli.

You-ni jadi heran dan bertanya : “Apa maksud kalian, dua suciwan melihat kedatanganku, malah tak mempedulikanku?”

Kedua abangnya berkata : “Adik! Kami ditindas oleh Shi Li-zi, selama tiga hari ini membagi kami hidangan yang seadanya saja, sehingga kami jadi begitu marah. Kenapa kamu tidak bantu kami saja, malah tinggal sendiri dengan nyaman?”

“Suciwan! Bagaimana caranya supaya saya dapat membantu kalian?”

“Adik! Pergilah menuju tempat keberadaan Bhagava lalu sampaikan : ‘Bhagava! Shi Li-zi telah melanggar peraturan, melakukan hubungan yang tidak suci dengan diriku, melanggar Parajika‘. Kemudian saya juga akan menuju ke hadapan Bhagava untuk menjadi saksi, bahwa kejadian ini adalah nyata adanya”.

Namun sang adik malah membantah : “Beliau adalah Bhikkhu yang suci, mana boleh saya menfitnah dirinya?”

“Bila adik tidak sudi melakukan hal ini. maka kami hari ini takkan sudi berbicara denganmu”.



143



persembahan”.

Setelah mendengarnya, Dermawan berpikir dalam hati : Kabarnya Shan-you dan Dadi adalah Bhikkhu papamitra (sahabat jahat), bila kedua Bhikkhu ini besok datang ke rumahku, saya hanya meladeni mereka seadanya saja, tidak perlu menghidangkan sajian istimewa.

Hari kedua, dermawan menghidangkan menu makanan kategori kedua buat kedua Bhikkhu tersebut, oleh karena dermawan mempunyai urusan, dan juga tidak ada menu istimewa yang lezat. Hari ketiga menghidangkan sajian biasa.

Oleh karena dituntun kekuatan karma, Shan-you dan Dadi dua Bhikkhu ini, meskipun menjadi tamu tetapi hingga hari ketiga juga tidak memperoleh hidangan istimewa. Pada saat itu dua Bhikkhu ini berdiskusi : “Mengapa Shi Li-zi selama tiga hari ini sengaja memberikan pada kita makanan dan minuman seadanya, sehingga kita jadi tak gembira? Saya ingin mengacaukan dirinya”.

Mereka memiliki seorang adik perempuan yang telah menjadi Bhikkhuni yang bernama Bhikkhuni You-ni, tinggal di Vihara Wang Yuan. Pada suatu hari, Bhikkhuni You-ni berkunjung ke kediaman abangnya yakni Bhikkhu Shan-you dan Dadi. Melihat kedatangan adik perempuannya, dua Bhikkhu tersebut malah berlagak


142



Namun Bhikkhu Shi Li-zi memiliki jalinan jodoh buruk dengan dua orang Bhikkhu lainnya yang bernama Shan-you dan Dadi, jalinan permusuhan ini telah dijalin selama beberapa masa kehidupan, sehingga pada masa kelahiran sekarang Bhikkhu Shi Li-zi harus mengalami fitnahan.

Pada saat itu Shan-you dan Dadi datang dari arah selatan ke Vihara Hutan Bambu (Veluvana Arama), setibanya di vihara, mereka segera bertanya pada Bhikkhu lainnya : “Siapa yang bertanggungjawab mengurus makanan dan penginapan?”

Bhikkhu menjawab : “Dia adalah Bhikkhu Shi Li-zi”.

Maka itu Bhikkhu Shan-you dan Dadi segera menghadap Bhikkhu Shi Li-zi dan berkata : “Kami berdua datang untuk menginap, mohon berikan kami makanan”.

Pada saat itu Shi Li-zi menempatkan Shan-you dan Dadi sebagai tamu kehormatan, sehingga mereka berdua dapat menikmati makanan kategori pertama.

Hari itu dermawan datang bertanya : “Esok hari, siapa yang datang ke rumahku untuk menerima persembahan?”

Shi Li-zi menjawab : “Shan-you dan Dadi, dua Bhikkhu yang akan datang ke rumah anda menerima


141



hidup, lagi pula di vihara juga tidak ada ruang dapurnya. Sangha juga harus memperlakukan para Bhikkhu pendatang dengan baik selama tiga hari, setelah Bhikkhu pendatang menginap melewati tiga hari, maka tidak dianggap lagi sebagai tamu, sehingga pada hari keempat, mereka juga harus menjalani kehidupan berpindapatra, tidak memperoleh lagi perlakuan istimewa yakni menerima hidangan dari dermawan.

Bhikkhu Shi Li-zi memikul tanggung jawab untuk membagi kamar kuti dan makanan bagi para anggota Sangha, memperlakukan para Bhikkhu baik yang senior maupun yang junior dengan adil dan merata, sehingga tidak ada satupun anggota Sangha yang merasa diperlakukan tidak adil.


140


adalah Shi Li-zi sebagai yang terunggul”.

Pada masa kehidupan lampau menabur benih karma, pada masa kehidupan sekarang menerima akibatnya

Oleh karena “Gerombolan Enam Bhikkhu” yang hanya tahu menerima persembahan tetapi tidak mengamalkan peraturan, sehingga para Bhikkhu lainnya mendengar keluhan dari para dermawan. Para Bhikkhu membawa persoalan ini ke hadapan Buddha Sakyamuni.

Bhagava berkata : “Seharusnya mengutus Shi Li-zi yang membagi makanan kepada anggota Sangha”.

Maka itu Shi Li-zi diutus Sangha untuk menjadi pembagi makanan, Shi Li-zi membagi makanan untuk Sangha ke dalam tiga kategori :
1.    Makanan kategori pertama, dihidangkan bagi Bhikkhu pendatang, pada hari pertama dia memperoleh hidangan istimewa dari persembahan dermawan.
2.   Makanan kategori kedua, dihidangkan bagi Bhikkhu pendatang, pada hari kedua dia memperoleh hidangan ini dari persembahan dermawan.
3.   Makanan kategori ketiga, dihidangkan bagi Bhikkhu pendatang, pada hari ketiga dia memperoleh hidangan biasa dari persembahan dermawan.

Oleh karena pada waktu itu, anggota Sangha berpindapatra untuk mempertahankan keberlangsungan


139


guna membagi kamar kuti buat mereka.

Ada juga yang baru datang menginap pada pukul 21:00-22:00, Shi Li-zi menggunakan tiga jari tangannya untuk memancarkan cahaya. Yang baru tiba pada pukul 21:00-23:00, Yang Ariya akan menggunakan empat jari tangannya untuk memancarkan sinar guna membagi kamar kuti buat para Bhikkhu.

Ada pula Bhikkhu yang sengaja datang menginap pada tengah malam, Yang Ariya Shi Li-zi menggunakan lima jari tanganNya memancarkan cahaya guna membagi kamar kuti buat mereka.

Setelah menyaksikan kemampuan gaib tersebut, para Bhikkhu berpikir : Kami tidak seharusnya merepotkan Suciwan besar ini, Suciwan yang penuh tata krama ini yang telah membagi kamar kuti buat kami.

Maka itu mereka lebih giat dalam melatih diri, mengurangi waktu tidur, tekun menjalani kehidupan Sramana, oleh karena ketekunan ini, sehingga mereka yang belum mencapai tingkat kesucian akhirnya berhasil mencapai tingkat kesucian, yang telah mencapai tingkat kesucian akhirnya berhasil mencapai tingkat ketidakmunduran lagi.

Pada waktu itu, Bhagava memberitahu pada siswa-siswaNya : “Para Bhikkhu! Diantara para siswaKu, yang paling bijak dalam membagi kamar kuti,



138


Pada saat itu, Shi Li-zi melakukan namaskara pada Buddha Sakyamuni, setelah itu duduk di tempatnya sambil mendengar pembabaran Dharma dari Bhagava.

Pada saat itu para Bhikkhu di Rajagaha, tidak menghuni kamar kuti sesuai dengan kelompok masing-masing. Buddha Sakyamuni menyuruh Shi Li-zi untuk membagi kamar kuti bagi para Bhikkhu.

Kemudian Bhikkhu Shi Li-zi membuat pengelompokkan kamar kuti menurut profesi masing-masing Bhikkhu, para Bhikkhu yang belajar Sutra Pitaka ditempatkan dalam satu kamar, sedangkan para Bhikkhu yang belajar Vinaya Pitaka ditempatkan dalam satu kamar, para Bhikkhu yang belajar Abhidharma Pitaka ditempatkan dalam satu kamar, Bhikkhu penceramah tinggal bersama dengan Bhikkhu penceramah, dengan demikian barulah mereka dapat belajar bersama, mengembangkan sila, samadhi dan prajna.

Pada saat itu para Bhikkhu tamu baru tiba di Vihara Hutan Bambu pada pukul 19:00-20:00, Bhikkhu Shi Li-zi dengan kemampuan gaibnya, dengan satu jari tangannya memancarkan cahaya (bagaikan senter) lalu membagi kamar kuti buat mereka.

Ada juga para Bhikkhu yang menyukai menonton kemampuan gaib ini sehingga sengaja datang menginap pada pukul 19:00-21:00, Bhikkhu Shi Li-zi menggunakan dua jari tangannya untuk memancarkan cahaya


137


Suatu hari Bhikkhu Shi Li-zi memberitahu gurunya : “Upadhyaya! Murid telah bertemu dengan Dharmakaya Tathagata, namun belum bertemu dengan Rupakaya Buddha, hari ini saya berniat bertemu dengan Bhagava”.

Bhikkhu Ma Sheng berkata pada Shi Li-zi : “Pergilah! Ketahuilah bahwa kemunculan Buddha di dunia adalah amat langka sekali, ibarat permata istimewa yang sulit ditemukan, juga ibarat Bunga Udumbara yang jarang bermekaran”.

Setelah mendapat persetujuan dari gurunya, Shi Li menuju Kota Rajagaha, terlebih dulu menuju telaga untuk membersihkan diri, kemudian menuju Vihara Hutan Bambu (Veluvana Arama).

Pada waktu itu Buddha Sakyamuni melihat kedatangan Bhikkhu Shi Li-zi, berkata padanya : “Ehi (Mari) Bhikkhu! Kini saatnya, silahkan mengambil tempat duduk yang sesuai dengan keinginanmu”.



Sabtu, 30 Januari 2016

136



Setelah berpamitan pada ayahbundanya, Putra Mahkota Shi Li menuju tempat keberadaan Bhikkhu Ma Sheng, berkata : “Insan yang penuh kebajikan! Ayahbundaku telah menyetujuinya, semoga Anda bermaitri karuna menuntun diriku meninggalkan keduniawian”.

Yang Ariya Ma Sheng menabhiskan putra mahkota lalu memberitahukan padanya : “Shi Li-zi! Apakah anda mengetahuinya? Karir seorang Bhikkhu ada dua jenis :
1.    Membaca : mempelajari ajaran Tripitaka yakni Sutra, Vinaya dan Abhidharma pitaka.
2.   Melatih samadhi : giat melatih Jalan Pembebasan
Kamu lebih suka belajar ajaran atau lebih suka melatih Jalan KeBodhian?”

Shi Li-zi menjawab pertanyaan gurunya : “Upadhyaya (penahbis)! Diantara dua karir ini, saya ingin mempelajari semuanya”.

Sejak itu, setiap hari mempelajari Tripitaka dan tekun melatih diri, tidak lama kemudian berhasil menguasai Tripitaka, begitu tekunnya dan takkan membiarkan sedetik pun waktu berlalu dengan sia-sia, bertekad memutuskan seluruh kilesa (kekotoran batin), akhirnya mencapai tingkat kesucian tertinggi, Arahat.


135



Yang Ariya Ma Sheng berkata : “Bagus sekali!”

Setelah mendengarnya, Putra Mahkota Shi Li, dengan rasa hormat dan bersukacita, mohon pamit dan beranjak pergi! Dia pulang ke istana memohon ijin dari ayahbundanya agar memperbolehkannya meninggalkan keduniawian melatih diri, tetapi ayahbundanya malah tidak mengijinkannya, saat itu putra mahkota berkata : “Ayahanda! Ibunda! Mohon kalian memperbolehkan daku meninggalkan keduniawian menjadi Bhikkhu, jika kalian tidak mengijinkannya, maka mulai hari ini saya akan mogok makan”.

Ayahbundanya meskipun mendengar ancaman putra mahkota, tetapi belum melihat tindakan nyatanya. Shi Li-zi mulai mogok makan, hingga hari keenam, ayahbundanya menggunakan berbagai cara untuk menasehatinya, putra mahkota tetap bersikukuh pada keputusannya. Akhirnya ayahbunda mengijinkan putranya pergi meninggalkan keduniawian melatih diri.


134



Guru bagaikan Gunung Sumeru sedangkan siswa bagaikan biji sesawi; juga Guru ibarat air di lautan luas sedangkan siswa bagaikan air jejak kaki kerbau; juga ibarat sinar mentari dengan sinar kunang-kunang, sulit dibandingkan”.

Putra mahkota berkata pada Yang Ariya : “Insan yang penuh kebajikan! Hari ini saya berniat meninggalkan keduniawian, mempelajari kehidupan Sramana yang Anda jalani, apakah hal ini diperbolehkan?”

Yang Ariya berkata : “Putra mahkota! Apakah ayahbunda anda mengijinkan dirimu meninggalkan keduniawian?”

Shi Li-zi menjawab : “Insan yang penuh kebajikan! Ayahbundaku belum memberi ijin, tetapi saya pasti akan meminta persetujuan dari mereka!”


133



Utusan pulang ke istana melapor pada putra mahkota : “Bhikkhu ini ketika memasuki dusun tampak begitu penuh tata krama, ketika kembali ke hutan, tata kramanya seratus kali lipat lebih berwibawa daripada ketika berada di dusun”.

Putra Mahkota Shi Li yang mendengar ucapan utusan tersebut, segera menuju ke hutan, melihat Yang Ariya Ma Sheng sedang memasuki samadhi. Putra mahkota berkata dalam hati : Tidak sepantasnya saya mengganggu samadhi Bhikkhu ini, menanti hingga Beliau keluar dari samadhiNya, barulah saya bernamaskara padaNya.

Setelah melewati siang hari, Yang Ariya Ma Sheng baru keluar dari samadhi, Shi Li-zi menuju ke hadapanNya, bernamaskara pada Yang Ariya lalu berkata : “Insan yang penuh kebajikan! Apakah Anda adalah seorang Guru atau siswa?”

Bhikkhu Ma Sheng menjawab : “Saya adalah siswa, bukan Guru”.

Shi Li-zi bertanya lagi : “Apakah kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh Guru dan siswa?”

Yang Ariya menjawab : “Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki Guru dan siswa, bedanya adalah jauh sekali. Ketahuilah oh putra mahkota :


132



Setelah melihat hal ini, pangeran berkata dalam hati : Bhikkhu yang tampak penuh tata krama serupa ini sungguh belum pernah kulihat sebelumnya, sebagian besar anggota Sangha tampak penuh tata krama ketika memasuki dusun, tetapi ketika berada di kuti, tempat yang sepi, kelakuannya mungkin berbeda; hari ini saya akan mengutus orang untuk memeriksa apakah ketika berada di kuti, kelakuannya juga serupa dengan yang sekarang?

Utusan putra mahkota secara diam-diam mengikuti Bhikkhu Ma Sheng hingga ke hutan, mengamati semua kelakuannya. Pada saat itu Bhikkhu Ma Sheng baru saja selesai berpindapatra dan kembali ke hutan, selesai menyantap makanannya, lalu duduk bersila, kelakuannya penuh tata krama, setiap hari juga serupa penuh tata krama menjalani kehidupan Sramana.



131


Buddha Sakyamuni mengetahui bahwa Putra Mahkota Shi Li pernah menanam akar kebajikan pada masa Buddha lampau membabarkan Dharma di dunia, sekarang akar kebajikan ini telah masak dan sudah saatnya dapat menerima ajaran.

Buddha Sakyamuni juga mengamati siapa yang berjodoh mengajari putra mahkota ini? Apakah lebih berjodoh dengan Buddha? Atau lebih berjodoh dengan siswa Buddha? Atau menggunakan tata krama untuk menyelamatkannya? Dalam pengamatanNya, Buddha Sakyamuni mengetahui bahwa putra mahkota berjodoh dengan siswaNya yang terunggul dalam pelaksanaan tata krama.

Pada saat itu Bhikkhu Ma Sheng merupakan siswa Buddha yang terunggul dalam pelaksanaan tata krama. Maka itu, Bhagava memberitahu pada Bhikkhu Ma Sheng : “Pergilah ke Kerajaan Bobo untuk menyelamatkan Putra Mahkota Shi Li”.

Bhikkhu Ma Sheng menuruti pesan Buddha Sakyamuni, membawa patranya menempuh perjalanan ke Kerajaan Bobo. Pada saat itu putra mahkota sedang berada di atas paviliun, melihat dari kejauhan kedatangan Bhikkhu yang berjalan dengan tenang, yang belum pernah dia lihat sebelumnya, tampak begitu penuh tata krama.