Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 176~200. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 176~200. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2016

200



Anathapindika berkata : “Paduka! Hamba menuruti titah paduka”.

Pelayan tua mendengar majikannya bersedia membebaskan dirinya, amat gembira. Raja Cakravartin menggunakan pusaka Ru Yi menyinari wajahnya, sehingga pelayan tua melihat dirinya bagaikan pusaka gadis giok, dia amat bersukacita berkata : “Para sramana itu menyebut diri sendiri telah mencapai kesucian, namun tiada satupun yang serupa ini. Kini Raja Cakravartin muncul di dunia, memberi manfaat bagi para makhluk, sehingga saya berubah dari seorang pelayan tua menjadi pusaka gadis giok”.

Setelah menyelesaikan ucapannya, pelayan tua bernamaskara pada Raja Cakravartin. Pada saat itu pejabat pengurus pusaka membaca ajaran dari Raja Cakravartin, menyebarkan Sepuluh Kebajikan.

Gadis giok (pelayan tua) setelah mendengar Sepuluh Kebajikan, hatinya amat bersukacita, dia berpikir : Dharma yang diucapkan oleh Raja Cakravartin tiada satupun yang tidak bajik. Kemudian, dia menghadap Raja Cakravartin memohon pertobatan. Setelah hati pelayan tua telah diseimbangkan, Rahula dan para Bhikkhu lainnya segera menjelma kembali pada rupa diri yang asli.


199


suara genta dan tambur, di dalam hatinya penuh sukacita sehingga berkata : “Raja Cakravartin telah muncul di dunia, semua makhluk pasti bisa memperoleh manfaat, membedakan baik dan jahat, sejak sekarang para makhluk takkan disesatkan lagi oleh Sramana”.  

Maka itu dia keluar dari sarang kayu, melihat Raja Cakravartin duduk di atas tahta pusaka, dia segera bersujud pada raja.

Raja Cakravartin mengutus pejabat pengurus pusaka untuk menyampaikan pada pelayan tua : “Saudari! Pada masa kehidupan lampau anda menanam berkah besar, oleh karena memiliki rupa kerajaan, kini beta akan mengangkatmu jadi pusaka gadis giok”.

Pelayan tua memberitahu pejabat pengurus pusaka : “Derajatku rendahan, menyerupai tanah, Raja Cakravartin begitu memperhatikan diriku, sehingga daku begitu terkesima. Lantas, berkah kebajikan apa yang kumiliki sehingga berkesempatan menjadi pusaka gadis giok? Andaikata Raja Cakravartin mengasihi diriku, mohon paduka menurunkan titah agar majikanku membebaskan diriku”.

Raja Cakravartin memberitahu Anathapindika : “Pengurus rumahmu memiliki rupa agung, beta menghendaki dia menjadi pusaka gadis giok”.


198



Yang Ariya Rahula yang menerima  pemberkatan dari kekuatan kewibawaan Buddha, memasuki samadhi, setelah bernamaskara pada Buddha, lalu dengan kekuatan gaib menjelma jadi Raja Cakravartin, Ananda berdiri di samping kiri, Ananda menjelma jadi pejabat pengurus pusaka dan Nanda berdiri di samping kanan, Nanda menjelma jadi pejabat pengurus prajurit. 1250 orang Bhikkhu menjelma jadi ribuan putra.

Mereka sampai di rumah dermawan Anathapindika, banyak Yaksa yang berteriak : “Raja Cakravartin muncul di dunia, melenyapkan orang jahat, menyebarkan Dharma bajik”.  

Pelayan tua yang mendengarnya amat bersukacita berkata : “Sungguh menakjubkan, Raja Cakravartin memiliki pusaka Ru Yi, segala keinginan dapat terpenuhi”.  

Pada saat itu Raja Cakravartin tiba di rumah Anathapindika, pelayan tua yang mendengar bunyi


197



melihat Sramana Gautama di gerbang istana, menampilkan berbagai ilmu mistis dan sulap, tubuhNya bagaikan gunung emas, dan masih banyak perhiasan permata yang bisa memancarkan cahaya cemerlang”.  

Selesai berkata lalu masuk ke dalam sangkar kayu, dengan lebih dari seratus lembar kulit untuk menutupi bagian atas sangkar kayu, lalu menggunakan kain putih untuk membungkus kepalanya barulah berbaring di tempat yang gelap.

Buddha Sakyamuni setelah selesai menerima persembahan, bersiap-siap pulang ke Taman Jetavana, Ratu Mallika memberitahu pada Buddha : “Bhagava! Mohon bermaitri karuna menyelamatkan wanita sesat itu, janganlah pulang ke Arama dulu”.

Buddha Sakyamuni memberitahu pada Ratu Mallika : “Pelayan tua ini dosanya amat berat, tidak berjodoh dengan Buddha, tetapi dia memiliki jalinan jodoh dengan Rahula”.

Kemudian Buddha Sakyamuni pulang ke Taman Jetavana, memberitahu pada Rahula : “Pergilah ke rumah Anathapindika untuk menyelamatkan pengurus rumahnya”.

Pada saat itu 1250 orang Bhikkhu yang hadir memberitahu pada Buddha Sakyamuni : “Kami juga berniat ikut serta”.


196


atas, arah atas juga ada Buddha; menunduk ke bawah, juga ada Buddha; lalu menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya, tetapi sepuluh jarinya semuanya berubah jadi Buddha.

Pelayan tua memejamkan sepasang matanya, mata hati terbuka, melihat di angkasa Buddha jelmaan memenuhi sepuluh penjuru alam.

Pada saat itu di Kota Sravasti, ada 25 gadis yang berasal dari Kasta Sudra, 50 gadis dari Kasta Brahmana, dan kasta lainnya, ditambah dengan dayang-dayang Ratu Mallika, seluruhnya berjumlah 500 orang, mereka pernah menfitnah dan tidak percaya pada Buddha Dharma, sekarang melihat Tathagata terbang ke angkasa, menampilkan kepada pelayan tua tubuh jelmaan yang tak terhitung, sehingga mereka membangkitkan sukacita, menghapus pandangan sesat mereka, dengan hormat bernamaskara pada Sang Buddha, menyebut Namo Buddhaya.  

Pelayan tua meskipun telah bertemu dengan Buddha, namun dia tetap berpandangan sesat tidak percaya pada Buddha Dharma. Kemudian, oleh karena dia telah bertemu dengan Sang Buddha, sehingga menghapus 8 juta koti kalpa penderitaan samsara.

Setelah bertemu dengan Buddha, dia bergegas lari pulang ke rumah, menyampaikan pada dermawan : “Hari ini saya bertemu dengan musuh jahat besar,


195



Rahula mengikuti di belakang Sang Buddha.

Pelayan tua ketika melihat Buddha Sakyamuni, panik dan ketakutan hingga bulu kuduknya juga ikut berdiri, berbicara sendiri dan menjauh. Dia ingin keluar melalui lubang anjing, di luar dugaan ternyata lubang anjing tidak bisa dilewati, seluruh pintu gerbang di empat penjuru juga sudah ditutup, hanya pintu gerbang utama yang masih terbuka.

Pelayan tua menutupi wajahnya dengan kipas sambil berjalan keluar, tiba-tiba Buddha Sakyamuni berdiri di hadapannya, seketika itu kipasnya berubah jadi transparan bagaikan kaca, tiada rintangan.

Dia melihat ke arah timur, di arah timur juga ada Buddha; selatan, barat, utara juga ada Buddha berada. Dia menengadah ke



194


Istri Anathapindika menjawab : “Ratu! Angulimala merupakan orang yang amat jahat, namun Sang Buddha juga dapat menyelamatkannya, apalagi seorang pelayan tua?”

Ratu Mallika setelah mendengarnya jadi begitu gembira dan berkata : “Baiklah, besok saya akan mengundang Bhagava ke istana untuk menerima persembahan, saat itu undanglah pengurus rumahmu itu untuk ikut serta ke istana”.

Keesokan harinya, Raja Prasenajit dan Ratu Mallika ketika hendak memberi persembahan kepada Buddha Sakyamuni, dermawan Anathapindika menyuruh pelayan tua untuk membawa guci yang penuh berisi emas dan permata, untuk mendukung raja memberi persembahan kepada Buddha dan Sangha.  

Pelayan tua mendengar dirinya berkesempatan masuk ke istana, sehingga dengan senang hati membawa guci permata ke istana. Ratu Mallika melihat kedatangan pelayan tua, amat gembira dan berkata : “Orang yang berpandangan sesat ini, andaikata Bhagava menyelamatkannya, saya pasti dapat memperoleh manfaat Dharma dari hal ini”.

Pada saat itu, Buddha Sakyamuni masuk ke dalam istana melalui gerbang utama, Yang Ariya Nanda berjalan di samping kiri Sang Buddha, Yang Ariya Ananda berjalan di samping kanan Sang Buddha, Yang Ariya



193



Dia juga tiada hentinya melontarkan kutukan : “Harus menunggu sampai kapan barulah saya takkan mendengar nama Buddha lagi, takkan mendengar nama Sangha lagi?”

Nama jelek si pengurus rumah jadi tersebar ke seluruh pelosok Kota Sravasti, Ratu Mallika juga mendengar perkataan begini, ratu merasa amat prihatin dan berkata : “Sifat dermawan Anathapindika agung bagaikan Bunga Teratai, tetapi kenapa bisa mempunyai seorang pelayan tua yang hatinya bagaikan ular berbisa?”

Maka itu Ratu Mallika berkata pada istri Anathapindika : “Pelayan tua di rumah kalian mengucapkan kata kasar yang menfitnah Triratna, kenapa tidak diusir saja keluar?”



192


Akibat Menfitnah Guru

Ketika Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma di kampung halamanNya, yakni Kota Kapilavastu, pada suatu hari, Raja Suddhodana bertanya pada Buddha Sakyamuni : “Sang Buddha muncul di dunia membawa manfaat apa, sehingga para makhluk memperoleh kedamaian?”

Buddha Sakyamuni memberitahu Raja Suddhodana : Di Kota Sravasti, di rumah dermawan Anathapindika ada seorang pelayan wanita yang telah lanjut usia yang bernama Pi Di-luo, dia begitu rajin mengurus rumah, oleh karena itu, dermawan mempercayakan padanya untuk menyimpan kunci gudang, setiap pemasukan dan pengeluaran segala harta benda juga ditanganinya, boleh dikatakan dia merupakan pengurus rumah tangga dermawan.  

Kadang kala, dermawan Anathapindika hendak memberi persembahan kepada Buddha dan Sangha, atau ada anggota Sangha yang jatuh sakit sehingga memerlukan sejumlah biaya pengeluaran, pengurus rumah tangga ini jadi agak kikir dan tidak rela, bahkan mengeluh tentang Buddha dan Sangha : “Majikan kita dungu, kena pengaruh ilmu sihir para Sramana, para pengemis itu rakusnya bukan main, mana ada etika moralnya?”


Minggu, 07 Februari 2016

191



Raja Fan Shou setelah mendengar pembabaran dari Buddha Sakyamuni tentang sebab akibat, segera berkata : “Benar seperti apa yang dikatakan oleh Bhagava!”

Bodhisattva Da Yi mempergunakan kesempatan tersebut untuk bertanya pada Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Jika ada makhluk yang menggunakan uang vihara untuk kepentingan pribadi, apa buah akibat yang akan diterimanya?”

Buddha Sakyamuni menjawab pertanyaan Bodhisattva Da Yi : “Andaikata ada orang yang menggunakan uang vihara atau harta benda milik Sangha, maka orang ini telah melakukan dosa sepuluh penjuru, saat menjelang ajal pasti jatuh ke Neraka Avici, menjalani siksaan besar”.   

(以上事見《廣大蓮華莊嚴曼拏羅滅一切罪陀羅尼經》、《寶梁經》、
《大方等大集經》卷四十四、《大乘大集地藏十輪經》卷三)


190



Sedangkan mengenai sakit kepala yang dialami raja, Buddha Sakyamuni melanjutkan membabarkan pada Ananda : “Raja Fan Shou menderita sakit kepala, dikarenakan tempo hari ketika berkunjung ke Arama, anggota Sangha meminta Bhikkhu Pengurus untuk mempersiapkan karangan bunga untuk menyambut kedatangan raja, Bhikkhu Pengurus bernama Jing-jun, oleh karena usianya masih muda dan tidak tahu akibatnya, dia masuk ke ruang kebaktian untuk mencari karangan bunga, lalu mengambil karangan bunga yang dikenakan pada rupang Buddha, kemudian dipersembahkan kepada raja.

Raja menerimanya lalu mengenakannya di atas kepala, dalam waktu seketika, timbul rasa sakit di kepalanya”.



189



Dayang istana yang melihat selir raja tiba-tiba begitu saja sudah meninggal dunia, sehingga menangis tersedu-sedu, raja yang mendengar selirnya meninggal dunia, hatinya begitu sedih dan terpukul sehingga juga jatuh pingsan.

Buddha Sakyamuni membabarkan sampai di sini, berkata pada Ananda : “Pada masa kehidupan lampau, Ratu Wu You yang dengki, sekarang adalah wanita miskin penjual kayu bakar, sedangkan selir yang penuh welas asih yakni Anu-bomo, sekarang adalah adik perempuan Raja Fan Shou. Ananda!  Jika seseorang itu serakah dan memiliki kedengkian yang kuat, orang begini pada kelahiran yang akan datang pasti akan menerima akibat yang tidak menyenangkan”.


188


Tidak lama kemudian, Anu-bomo berhasil melahirkan putra mahkota, tubuh bayi berwarna keemasan, wajahnya rupawan. Raja yang melihat kehadiran putra mahkota ke dunia, hatinya amat bersukacita.

Beberapa jam kemudian, para penghuni istana berkumpul bersama, membahas tentang kelahiran putra mahkota, diantaranya ada seorang dayang istana yang mengatakan bahwa Ratu Wu You merasa dengki. Perkataan ini didengar oleh Anu-bomo, sehingga menanyakan kejelasannya pada dayang istana tersebut.

Pada saat itu dayang istana tidak berani merahasiakannya, sehingga menceritakan ucapan Ratu Wu You kepada raja. Mendengar hal ini, hati Anu-bomo bagaikan tersayat oleh irisan pisau, dengan sedih berkata : “Bagaimana saya bisa dikatakan sebagai orang gila? Bagaimana saya rupanya sehingga dikatakan tidak tahu malu?”, Anu-bomo begitu sakit hati memukul dadanya lalu jatuh ke permukaan tanah dan tak sadarkan diri.

Melihat kejadian ini, dayang istana segera memercikkan air ke wajah Anu-bomo, juga menggunakan berbagai cara untuk membangunkannya, namun juga tak kunjung siuman, akhirnya menghembuskan nafas terakhir.  (sepatah kata bisa langsung mencelakai orang lain menemui ajalnya, karena itu dalam melontarkan perkataan harus sangat hati-hati!)


187



hamil tiba-tiba hendak melahirkan, sehingga menyampaikan hal ini kepada raja, raja segera menyuruhnya untuk pulang ke istana.

Istri kedua raja yakni Anu-bomo pulang ke istana untuk melahirkan, tak terduga ternyata dia mengalami kesulitan melahirkan bayinya, pejabat istana segera menyampaikan hal ini kepada raja. Raja Chi Guang setelah menerima laporan ini, bergegas pulang ke istana, melihat penderitaan yang dialami istri keduanya yang begitu sulit untuk melahirkan bayinya, lalu menyalakan dupa memohon air pemberkatan pada Triratna, lalu air tersebut diminum Anu-bomo.  

Ratu Wu You yang menyimpan rasa dengki, berkata pada raja : “Anu-bomo kayak orang gila dan tidak tahu malu, rambutnya terurai dan tak terurus, persis setan rupanya”.


186


mengeluarkan suara tangisan yang memilukan, ini membuatku merasa terguncang, dan membenci terlahir sebagai wanita. Hal lainnya adalah para tabib tersohor juga tidak sanggup menyembuhkan sakit kepala paduka, dan sekarang Bhagava hanya mengusap kepalanya, sembuh dalam waktu seketika dan tidak merasa sakit lagi, bagaimana jalinan jodoh dari hal ini? Mohon Bhagava bermaitri karuna membabarkan kepada kami”.

Pada saat itu, Bhagava dari mulutNya memancarkan cahaya cemerlang beraneka warna, menerangi alam yang tak terhingga dan tanpa batas, cahaya ini kemudian masuk kembali ke dalam mulut Bhagava. Ananda yang melihat cahaya Buddha menerangi dunia, lalu bangkit dan bernamaskara, berkata : “Bhagava! Hari ini ada jalinan jodoh apa sehingga memancarkan cahaya menerangi alam para Buddha? Semoga Bhagava menjelaskannya kepada kami”.

Buddha Sakyamuni memberitahu Ananda : “Pada masa kehidupan yang lampau, di kota ini terdapat seorang raja yang bernama Chi Guang, ratunya bernama Wu You, istri kedua dari raja bernama Anu-bomo.

Pada saat itu, ada pasukan prajurit dari sebuah kerajaan kecil yang datang menyerang, Raja Chi Guang memimpin langsung pasukan prajurit untuk mempertahankan kerajaannya. Di tengah perjalanan, raja beristirahat sejenak, istri keduanya yang sedang


185



Buddha Sakyamuni mengulur lenganNya, mengusap puncak kepala raja, berkata : “Bangunlah! Bangunlah!”

Raja bangkit kembali, dalam waktu seketika, sakit kepalanya jadi reda, jiwa raganya jadi nyaman, raja amat bersukacita. Tetapi adik perempuan raja malah berwajah muram, melihat hal ini raja jadi bertanya : “Adik! Kenapa kamu tampak risau? Ada masalah apa, silahkan tanya kepada Bhagava!”

Adik raja dengan hormat beranjali dan bernamaskara pada Buddha Sakyamuni, lalu berkata : “Bhagava! Tadi di perjalanan bertemu dengan seorang wanita yang memikul kayu bakar, tubuhnya mengenakan pakaian compang-camping, rambutnya kusut, saat melahirkan


184


Adik raja yang melihat hal ini jadi terkejut dan ketakutan sehingga jatuh pingsan.

Raja bertanya : “Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

Ratu berkata pada raja : “Paduka! Adik dikarenakan melihat wanita penjual kayu yang melahirkan di jalanan dan mengalami siksaan, oleh karena hatinya yang welas asih melihat penderitaan yang hebat ini, barulah jatuh pingsan”.

Setelah raja mendengarnya, memberitahu ratu : “Para makhluk tidak sanggup menghindari akibat karmanya”. Lalu memerintah pengawal istana untuk memberi sejumlah uang kepada wanita miskin tersebut, sehingga dia dapat pulang ke rumah dengan selamat.

Ketika adik perempuan raja siuman, berkata : “Namo Buddhaya! Paduka! Wanita miskin saat melahirkan begitu menderita, saya sungguh tidak tega melihatnya”.

Raja dan rombongannya akhirnya sampai di Arama, raja turun dari kereta dan melepaskan mahkotanya, merapikan pakaiannya, berjalan hingga sampai di hadapan Buddha Sakyamuni, dengan hormat beranjali, mengelilingi Bhagava, lalu bernamaskara pada Sang Buddha, kemudian bersujud untuk waktu yang agak lama.


Sabtu, 06 Februari 2016

183


penyakit yang diderita raja, sehingga semuanya merasa gelisah.

Pada saat itu, raja mempunyai seorang adik perempuan yang telah membangkitkan Bodhicitta, bahkan memiliki keyakinan yang teguh. Melihat penderitaan abangnya, sang adik jadi begitu bersedih hati, tidak sanggup menahan diri lalu berkunjung menanyakan kabar abangnya.

Raja berkata pada adiknya : “Adik! Beta tidak tahu bagaimana caranya agar bisa menyembuhkan penyakit aneh ini!”

Adik raja berkata : “Paduka! Anda begitu menderita, kenapa tidak memohon pemberkatan dari Buddha Sakyamuni? Bhagava memiliki hati yang maha maitri karuna, pasti dapat membantumu!”

Raja Fan Shou berkata : “Bagus sekali! Bagus sekali! Benar apa katamu, kenapa beta malah melupakan Bhagava, sekarang beta segera pergi mengunjungiNya”.

Raja segera menempuh perjalanan untuk mengunjungi Sang Buddha. Di tengah perjalanan, ada seorang wanita miskin yang hidup dari menjual kayu, sedang memikul kayu, wanita ini sedang mengandung dan hendak melahirkan, sehingga melahirkan bayinya di jalanan.


182



karangan bunga, lalu mengenakannya di kepalanya. Tidak sampai dua menit kemudian, raja tiba-tiba menderita sakit kepala.

Raja Fan Shou mengira bahwa ini dikarenakan mengadakan perjalanan pada musim panas cuaca terik, maka itu raja segera mohon pamit pada Sangha dan bergegas pulang kembali ke istana.

Sampai di istana, raja segera memerintahkan bawahannya mempersiapkan air wewangian untuk mandi. Setelah mandi, sakit kepalanya juga tidak hilang, akhirnya harus mengundang tabib istana untuk mengobatinya, namun penyakitnya juga tak kunjung sembuh.

Kemudian, raja mengundang seluruh tabib tersohor di negerinya untuk menyembuhkannya, namun hasilnya juga nihil. Para tabib ini juga tak berdaya, mengatakan bahwa mereka tidak menemukan penyebab


181


Raja Yang Menderita Sakit Kepala

Pada jaman dahulu kala ketika Buddha Sakyamuni sedang membabarkan Dharma di Taman Rusa Isipatana, raja Kerajaan Varanasi yakni Raja Fan Shou, memerintah dengan adil dan bijaksana, mengasihi seluruh makhluk bagaikan putra-putri sendiri.

Suatu hari, Raja Fan Shou melakukan perjalanan, ketika sampai di depan pintu gerbang Arama, penjaga gerbang yang melihat kedatangan raja, segera memberitahu para penghuni Arama : “Raja Fan Shou berada di pintu gerbang, hendak masuk ke dalam Arama”.  

Para anggota Sangha yang mendengar laporan dari penjaga gerbang, segera menyuruh Bhikkhu Pengurus untuk mempersiapkan karangan bunga untuk menyambut kedatangan raja.

Dalam waktu seketika, Bhikkhu Pengurus tidak berhasil mencari karangan bunga, tiba-tiba dia melihat di ruang kebaktian ada Rupang Buddha, di puncak kepala rupang terdapat karangan bunga, dia segera mengambil karangan bunga yang dipersembahkan kepada Buddha, kemudian menyerahkannya kepada para Bhikkhu yang bertugas menyambut kedatangan raja.  

Para anggota Sangha mempersembahkan karangan bunga tersebut kepada raja, raja setelah menerima