Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 151~175. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 151~175. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Februari 2016

175



daratan menuju ke dalam hutan. Tiba-tiba dia melihat ada seekor kera besar yang sedang berada di atas sebatang pohon besar. Naga amat kegirangan, diam-diam dia mendekati pohon besar tersebut, lalu dengan rayuan gombal


memikat si kera : “Anda adalah malaikat teragung di dunia, apa yang sedang anda perbuat di atas pohon? Apakah oleh karena aktivitas ini sehingga mengalami penderitaaan? Apakah sulit mendapatkan makanan dan minuman? Apakah tidak merasa kelelahan?..........”

Naga tersebut mengucapkan banyak perkataan yang enak di dengar, sebagai pembuka untuk memikatnya.

Kera menjawab : “Insan yang penuh kebajikan! Saya di sini sama sekali tidak merasa menderita,

174


Istrinya diam tidak menjawab.

Naga bertanya lagi : “Kenapa kamu tidak menjawab?”

Istri Naga berkata : “Bila kamu memenuhi niat hatiku, barulah saya mau bilang padamu, kalau tidak, sia-sia saja bicara denganmu”.

“Baiklah! Katakanlah apa maumu! Jika saya sanggup melakukannya, tentu saja saya akan berusaha semaksimal mungkin”.

“Saya ingin makan hati kera, apakah kamu bisa mencarinya?”

“Makanan yang kamu inginkan sungguh sulit diperoleh. Kita tinggal di tengah lautan luas, sedangkan kera berada di dalam hutan, bagaimana mungkin bisa kita peroleh?”

“Lantas harus bagaimana? Pokoknya saya harus makan hati kera, jika tidak bisa diperoleh, maka bayi dalam kandunganku mungkin tidak bisa dipertahankan, saya juga mungkin karena alasan ini harus menemui ajal”.


Naga berkata pada istrinya : “Mohon bersabarlah, sekarang saya pergi mencarinya”.

Kemudian Naga keluar dari lautan luas, pergi ke


173



Naga Memikat Kera

Ketika Buddha Sakyamuni sedang membabarkan Dharma di luar Kota Rajagaha yakni di Vihara Hutan Bambu (Veluvana Arama), suatu hari, Buddha Sakyamuni membabarkan pada para Bhikkhu tentang sebuah peristiwa yang pernah terjadi pada masa kehidupan yang lampau.

Pada masa kehidupan yang lampau, di tengah lautan besar, terdapat seekor naga muda yang bertanduk, istrinya sedang mengandung, tiba-tiba ingin makan hati kera, tetapi tidak berdaya mendapatkannya, sehingga tubuhnya hari demi hari kian kurus.

Naga bertanya pada istrinya : “Saya melihat tubuhmu kian hari kian kurus, sebenarnya penyakit apa yang kamu derita?” 


Rabu, 03 Februari 2016

172



Maka itu sekarang mereka dituntun oleh Sariputra sehingga memperoleh penyelamatan, meninggalkan keduniwian mencapai pembebasan”.

(事見《惟婁王獅子乳譬喻經》、《經律異相》卷十七。)



171


bagaimana tidak mungkin saling iri hati dan menfitnah?”

Yang Ariya memberi ceramah Dharma kepada raja. Raja Wei Lou memohon pada Yang Ariya untuk menurunkan padanya Lima Sila, timbul sukacita di hatinya dan mencapai tingkat kesucian pertama yakni Sotapanna.

Buddha Sakyamuni membabarkan sampai di sini, keempat abang adik setelah mendengar pembabaran Buddha Dharma, kebijaksanaan mereka jadi berkembang, lalu meninggalkan keduniawian dan menjadi anggota Sangha, tidak lama kemudian mencapai Arahat.

Pada saat itu, Yang Ariya Ananda bertanya pada Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Empat bersaudara ini pada masa kehidupan lampau telah menanam benih berkah apa, sehingga setelah meninggalkan keduniawian, tidak lama kemudian berhasil mencapai Arahat?”

Buddha Sakyamuni membabarkan pada Ananda : “Pada masa kehidupan lampau yakni ketika Buddha Mo Wen sedang membabarkan Dharma di dunia, Sariputra menjadi Bhikkhu, empat bersaudara ini adalah saudagar, mempersembahkan sehelai jubah untuk Bhikkhu Sariputra, Sariputra melimpahkan jasa buat mereka, semoga pada kelahiran yang akan datang segera memperoleh penyelamatan.


170



Pada saat itu Bhikkhu Arahat yang bermalam di tempat yang sama dengan orang miskin ini, dengan kemampuan gaibNya segera sampai di hadapan raja, lalu berkata : “Paduka! Percayalah bahwa ini adalah susu singa, saya pernah menginap di tempat yang sama dengannya ketika berada di dusun, melihat fenomena enam indriya di tubuhnya saling berdebat memperebutkan jasa, lidah berkata : “Saya akan memberontak”, ternyata hari ini memang sedemikian rupa kejadiannya. Paduka boleh dengan tenang menggunakan susu dan obat, penyakit pasti akan sembuh”.

Raja mempercayai perkataan Yang Ariya, mengkonsumsi susu dan obat, akhirnya kondisi tubuhnya pulih seperti sedia kala. Raja Wei Lou setelah sembuh, menepati janjinya memberi penganugerahan, bahkan menikahkan puterinya kepada orang miskin itu.

Orang miskin ini demi berterimakasih pada budi Yang Ariya yang telah menyelamatkan nyawanya, lalu meninggalkan keduniawian dan melatih diri, Yang Ariya memberi ceramah Buddha Dharma kepadanya, sehingga kebijaksanaannya berkembang, memutuskan semua kilesa (kekotoran batin), mencapai tingkat kesucian tertinggi, Arahat.

Yang Ariya memberitahu Raja Wei Lou : “Paduka! Meskipun berada bersama di dalam satu tubuh manusia, namun kesadaran-kesadaran tersebut saling bertentangan, apalagi diantara sesama manusia,


169



Keesokan harinya, orang miskin membawa susu singa ke istana, menyampaikan pada raja : “Paduka! Hamba telah memperoleh susu singa, mohon paduka menerimanya!”

Ketika raja sedang mengamati susu singa, tiba-tiba lidah orang miskin ini berkata : “Ini bukan susu singa, tapi adalah susu keledai!”

Raja yang mendengar isi botol tersebut bukan susu singa, sehingga jadi marah : “Beta mengutusmu mencari susu singa, beraninya kamu menentang titahku, mengambil susu keledai untuk menipuku, apa tidak pantas dihukum?”

Raja yang sedang marah, dalam seketika menjatuhkan hukuman penggal pada orang miskin tersebut.


168



Orang miskin ini yang oleh karena kekuatan karmanya, pada malam itu Bhikkhu Arahat dengan kemampuan gaibNya mendengar enam kesadaran dari orang miskin ini sedang berdebat saling berebutan jasa.   

Kaki berkata : “Semua ini mengandalkan kaki barulah bisa sampai di gunung, barulah berhasil memperoleh susu singa”.

Tangan berkata : “Adalah tangan yang menangkapnya, barulah bisa memperoleh susu”.

Mata berkata : “Sayalah yang pertama melihat singa betina, barulah bisa memperoleh susu”.

Telinga berkata : “Saya yang pertama mendengar raja hendak mengutus orang mencari susu singa, barulah memimpin kalian ke sana untuk memperoleh susu”.

Lidah berkata : “Buat apa kalian cuma berdebat? Semua jasa ini adalah berkat diriku, mati hidup ada pada ucapanku, kalau tak percaya, kalian lihat saja!”


167



Lalu raja mengutus orang miskin ini pergi mencari susu singa. Orang miskin ini memiliki sedikit kepintaran. Terlebih dulu dia mencari sarang singa betina, lalu membawa guci minuman anggur dan kambing ke gunung, ketika singa betina sedang keluar dan tidak berada di sarangnya, orang miskin ini membunuh kambing dan kemudian menyiram minuman anggur ke mayat kambing tersebut, lalu diletakkan ke dalam sarang singa betina.

Ketika singa betina pulang ke sarangnya, melihat ada kambing yang tergeletak, dia segera menyantapnya, namun daging kambing yang disiram anggur tersebut membuatnya mabuk dan jatuh tergeletak di atas tanah, tak sadarkan diri.

Orang miskin segera menuju ke hadapan singa betina, mengisi susu singa ke dalam botol, dengan gembira membawanya kembali ke kota. Di tengah perjalanan, dia bermalam di sebuah dusun, ada seorang Bhikkhu yang telah mencapai Arahat, juga menginap dan bermalam di tempat yang sama. Orang miskin yang oleh karena kelelahan dalam usahanya memperoleh susu singa, jadi tidur lelap.


166



Buddha Sakyamuni membabarkan pada empat bersaudara : Pada jaman dahulu kala ada seorang raja yang bernama Wei Lou, tubuhnya terserang penyakit, tabib istana mengatakan harus menggunakan susu singa dan obat barulah penyakit bisa disembuhkan, tetapi bukan mudah untuk mencari susu singa. Maka itu raja menurunkan titah : “Barang siapa yang bisa mendapatkan susu singa, maka beta akan menghadiahkan padanya sebuah dusun dan mengangkatnya jadi menantu raja”.

Pada saat itu ada seseorang yang miskin berkata pada raja : “Paduka! Hamba sanggup mencari susu singa”.


165



Enam Kesadaran Berebut Jasa

Ketika Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma di Vihara Hutan Bambu (Veluvana Arama), di Rajagaha terdapat empat bersaudara, oleh karena ayahbunda meninggal dunia sehingga berebutan harta warisan, kebetulan bertemu dengan Yang Ariya Sariputra yang sedang memasuki kota untuk berpindapatra.

Melihat kedatangan Yang Ariya, mereka berempat amat gembira, lalu mengundang Yang Ariya untuk membuat keputusan yang adil bagi mereka. Yang Ariya Sariputra : “Saya memiliki Maha Guru yakni Buddha Sakyamuni, kalian ikutlah denganku ke hadapan Bhagava, pasti bisa memperoleh penyelesaian yang sempurna”.

Kemudian  empat bersaudara mengikuti Yang Ariya Sariputra sampai di Vihara Hutan Bambu.

Buddha Sakyamuni yang melihat kedatangan empat bersaudara itu menebarkan senyumNya, dari mulut Bhagava terpancar cahaya cemerlang lima warna. Empat bersaudara setelah bernamaskara pada Buddha Sakyamuni, lalu menyampaikan : “Bhagava! Kami orang dungu, semoga Buddha menjelaskan, sehingga kami bisa memperoleh penyelesaian yang sempurna untuk mengakhiri perebutan ini”.


164



Buddha Sakyamuni membabarkan pada para Bhikkhu : “Pada masa kelahiran lampau Yaksa tersebut sekarang adalah Da Ge-luo, oleh karena berniat jahat menfitnah Pratyeka Buddha, menyebarluaskan gunjingan, lalu membangkitkan pertobatan, oleh karena pertobatan yang tulus sehingga terhindar dari siksaan di Neraka.

Namun buah akibat karma takkan hilang, masih juga diterima diri sendiri; oleh karena karma buruknya, sehingga selama 500 kelahiran selalu difitnah. Untunglah dalam waktu seketika dia langsung bertobat dengan setulusnya, mengikrarkan tekad, dengan benih berkah ini, sehingga dapat bertemu denganKu Tathagata yang menyelamatkannya meninggalkan keduniawian, akhirnya berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Saya melampaui Pratyeka Buddha berkali-kali lipat, bahkan tak terhingga, tiada bandingnya, sehingga bertemu denganKu, dengan hormat memberi persembahan, tak pernah merasa jenuh.

(Kisah Bhikkhu Da Ge-luo tercantum di di Mulasarvastivada-vinaya” bagian 36)


163



sekali tidak memakan daging manusia, ini merupakan niat jahatnya yang menfitnah Suciwan.

Setelah melakukan namaskara dengan hormat pada Suciwan serta berterimakasih, lalu Yaksa mengikrarkan tekad : “Saya telah melakukan karma buruk pada Suciwan, pasti kelak akan mendapatkan balasan penderitaan. Kini dengan ketulusan hati menghormati dan bernamaskara pada Suciwan dan seluruh jasa kebajikan dari pertobatan dan lain sebagainya, dilimpahkan agar pada masa kelahiran yang akan datang, semoga dapat bertemu dengan Maha Guru yang melampaui suciwan ini, memberikan persembahan padaNya, dan akhirnya mencapai tingkat kesucian tertinggi”.


162



Suatu hari Yaksa berkata dalam hati : “Bhikkhu ini sungguh membuatku terganggu, hari ini saya akan melakukan hal yang tidak sejahtera, supaya selanjutnya dia takkan melewati tempat ini lagi”.

Yaksa yang menggunakan kesempatan saat Bhikkhu Xi Shang melewati hutan tersebut menuju ke kota untuk berpindapatra, dengan kemampuan gaib memindahkan tangan orang mati ke patra Bhikkhu, pada saat itu penduduk kota sedang bergunjing, mengatakan bahwa Bhikkhu ini setiap hari makan daging manusia.

Bhikkhu Xi Shang yang tidak sudi membiarkan Yaksa yang dungu, oleh karena perbuatannya ini sehingga memperoleh buah akibat penderitaan, maka hadir di hadapannya, lalu terbang ke angkasa, menampilkan beragam kemampuan gaib, sehingga Yaksa membangkitkan keyakinan hati.

Yaksa setelah menyaksikan kemampuan gaib Bhikkhu tersebut, segera melakukan namaskara, memohon pertobatan : “Semoga anda bersedia turun kembali, akibat perbuatanku ini pasti akan jatuh ke Neraka, mohon Anda bermaitri karuna menyelamatkan diriku”.

Oleh karena permohonan yang tulus dari Yaksa, Bhikkhu Xi Shang barulah turun dari angkasa, Yaksa segera memindahkan kembali tangan orang mati dari patra, kemudian Yaksa menuju ke kota dan memberitahu penduduk kota bahwa Bhikkhu Xi Shang sama


Selasa, 02 Februari 2016

161


Akibat Menfitnah Suciwan

Para Bhikkhu menyampaikan hal ini kepada Buddha Sakyamuni, lalu bertanya : “Mengapa Bhikkhu Da Ge-luo bisa mencapai Arahat, namun juga masih mengalami difitnah orang bahwa dirinya makan daging orang mati?”, memohon pada Buddha Sakyamuni untuk menjelaskan masa kelahiran lampau Bhikkhu Da Ge-luo.

Buddha Sakyamuni memberitahu pada Bhikkhu : Da Ge-luo menanam benih karma sendiri, menerima sendiri akibat perbuatannya, dengarlah dengan seksama : Pada masa kehidupan lampau, di luar Kota Varanasi tinggallah seorang Bhikkhu yang telah mencapai Pratyeka Buddha, nama DharmaNya adalah Xi Shang, senantiasa ada para Dewa yang tak terhingga yang mengikutiNya, setiap kali Beliau masuk ke kota berpindapatra, akan melewati hutan pembuangan mayat manusia.

Pada saat itu ada seorang Yaksa yang tinggal di hutan tersebut memakan daging manusia, setiap kali Bhikkhu Xi Shang melewati hutan tersebut, oleh karena kekuatan kewibawaan yang dimiliki para Dewa yang senantiasa mengikutiNya, Yaksa ini tak berdaya dan terpaksa menjauh, sehingga mayat-mayat manusia dimakan hewan buas, Yaksa jadi harus menderita kelaparan.


160



“Anda makan daging manusia”.

“Apakah kalian melihat langsung saya mengambil pisau dan memotong daging manusia untuk dimakan?”

“Kami tidak melihatnya, tetapi kenapa anda berjalan tergesa-gesa ke arah orang yang menyamar mati ini?”

Bhikkhu Da Ge-luo menjelaskan pada para penduduk : “Saya melihat ada seekor anjing liar yang hendak memakan sesajian sembahyang, jika sesajian sembahyang ini dihabiskan oleh anjing liar, maka saya harus menderita lapar seharian, maka itu saya buru-buru mengusir anjing liar tersebut, tidak ada niat jahat lainnya”. 

Para penduduk yang mendengar penjelasan Da Ge-luo, lalu berkata : “Ternyata anda tinggal di hutan pembuangan mayat dengan mengandalkan makanan sembahyang, kini di kota sedang berhembus kabar angin bahwa anda bertahan hidup di kuburan dengan makan daging orang mati”. 

Setelah menyelesaikan ucapannya, penduduk jadi tertawa dan beranjak pergi. 

Lampiran : Kini para Bhikkhu Aliran Theravada setelah ditabhiskan, harus menerima persembahan dana makanan dari umat, tidak boleh mengambil sendiri makanan secara pribadi.


159



sesajian sembahyang, takut kalau makanan sesajian habis dimakan anjing liar, dia tidak memiliki makanan untuk mengganjal perut, sehingga buru-buru mengusir anjing liar tersebut.

Orang yang berpura-pura mati itu, yang melihat Bhikkhu berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya, mengira hendak memakan dirinya, sehingga segera bangun dan berteriak minta tolong : “Dia mau makan saya! Dia mau makan saya!”

Saat itu orang-orang yang berada di balik belukar segera berlarian keluar, bertanya pada Bhikkhu : “Suciwan! Anda telah meninggalkan keduniawian, mengenakan jubah Sramana, tetapi mengapa melakukan karma buruk begini?”

Bhikkhu menjawab : “Apa yang telah kulakukan?”



158



Pada saat itu penduduk yang menyamar jadi orang mati melihat Bhikkhu Da Ge-luo kembali ke hutan, jadi khawatir dan berkata pada pengangkat peti : “Da Ge-luo telah kembali ke hutan, dia pasti akan memakanku!”

Penduduk lainnya berusaha menghiburnya : “Kami akan tetap berada di sini untuk menjaga, anda tidak perlu takut!”

Sesampainya di hutan pembuangan mayat, para penduduk meletakkan peti di atas permukaan tanah, kemudian semuanya bersembunyi di balik belukar, mengamati gerak gerik Da Ge-luo. 

Pada saat itu ada seekor anjing liar yang mendekati tempat peti, ingin memakan sesajian sembahyang. Bhikkhu Da Ge-luo yang dari kejauhan melihat kedatangan anjing liar yang hendak memakan



157


Dengan cepat berita ini meluas hingga ke seluruh pelosok kota, penduduk kota saling bergunjing bahwa Bhikkhu Da Ge-luo tinggal di kuburan makan daging orang mati, akhirnya mereka berduyun-duyun menuju ke hutan pembuangan mayat untuk memeriksa kebenarannya.

Setelah berdiskusi akhirnya mereka memutuskan untuk berpura-pura mengadakan upacara kematian, lalu mengutus salah seorang penduduk untuk menyamar jadi orang mati, sementara penduduk lainnya berpura-pura jadi keluarga dan kerabat mendiang.

Setelah dilumuri dengan minyak kunyit, orang yang berpura-pura mati disuruh berbaring di atas tandu, lalu disembahyangi dengan makanan sesajian, kemudian tandu diangkat para penduduk keluar kota, sampai di hutan pembuangan mayat (hanya membuang jasad ke hutan tanpa dikubur). 

Pada saat itu Bhikkhu Da Ge-luo yang melihat bahwa selama beberapa hari ini tidak ada orang yang meninggal dunia, sehingga mengambil patranya bersiap-siap menuju ke kota untuk berpindapatra, di tengah jalan dia melihat ada sekelompok orang yang sedang mengangkat tandu orang mati untuk dimakamkan, Bhikkhu Da Ge-luo segera kembali ke dalam hutan, bersiap-siap untuk memakan sesajian sembahyang.




156



Mengapa saat banyak orang yang meninggal dunia, tubuhnya jadi gemuk, ketika jarang ada orang yang meninggal dunia, tubuhnya jadi kurus, apakah mungkin Suciwan Da Ge-luo makan daging orang mati?

Demikianlah gunjingan ini beredar dari mulut ke mulut, akhirnya semakin meluas dan orang-orang jadi percaya karenanya, masyarakat di kota ada yang mendengar perkataan yang dilontarkan oleh penjaga gerbang kota, Bhikkhu Da Ge-luo mungkin makan mayat.