Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 076~100. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 076~100. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2016

100


Mendengar wejangan dari sesepuh, penduduk dusun bukan saja tidak percaya malah semakin bertambah pandangan sesatnya, pikiran jahat yang tiada hentinya”.

Buddha Sakyamuni melanjutkan membabarkan : “Pada kehidupan lampau putri sesepuh itu, sekarang adalah putra mahkota Ding Ji. Para penduduk dusun yang berpandangan sesat, sekarang adalah penduduk Kota Shengyin. Sedangkan dua orang sesepuh yang menasehati penduduk dusun agar tidak melakukan karma buruk, sekarang adalah Li Yi dan Chu Huan, dua pejabat setia.

Oleh karena perbuatan baik mereka pada masa kelahiran lampau, yang menasehati penduduk dusun, sehingga sekarang dapat terhindar dari bencana, tidak mati tertimpa tanah.  Abang putri yang sulit menikah tersebut, yang mendengar cerita adiknya menyiram kotoran ke tubuh Bhikkhu, lalu tertawa, sekarang adalah Mahakatyayana”

Buddha Sakyamuni melanjutkan lagi membabarkan : “Para Bhikkhu! Mahakatyayana pada masa kehidupan lampau mendengar cerita adiknya menyiram kotoran ke tubuh anggota Sangha lalu tertawa, menanam benih karma buruk “Ikut bersukacita melihat kejahatan”, sehingga pada kehidupan sekarang masih saja harus tertimpa tanah; andaikata dia tidak meninggalkan keduniawian dan mencapai Arahat, maka hari ini

099



Melihat kondisi ini, si pertapa juga menggunakan kemampuan gaib terbang dan pergi, selanjutnya tidak ada lagi praktisi yang berani menginjakkan kaki dan berpindapatra di dusun tersebut, maka itu penduduk di sana mulai berpikir : “Menyiram kotoran ke tubuh Yang Ariya bisa mendatangkan berkah, tetapi sekarang sudah tidak ada anggota Sangha lagi di dusun ini, ayahbunda juga boleh mewakilinya. Sehingga sejak itu mereka menuangkan kotoran ke tubuh ayahbunda”.

Saat itu di dusun itu ada dua orang sesepuh, melihat para penduduk dusun sudah bertindak di luar akal sehat, memperingatkan mereka : “Kalian menuangkan kotoran ke tubuh anggota Sangha dan ayahbunda, ini adalah tindakan yang melanggar ajaran bakti dan kebenaran, benih karma buruk ini kelak pasti mendatangkan penderitaan”.


098



Mendengar kata adiknya, si abang tertawa.

Putri sesepuh ini juga menceritakan perbuatannya menuang kotoran ke tubuh Bhikkhu kepada kawan-kawannya, sehingga kemudian menjadi kabar burung yang beredar luas : “Putri sesepuh yang oleh karena menyiram Bhikkhu dengan kotoran sehingga mendapatkan suami kaya”. 

Kabar sesat ini dengan cepat tersebar luas, sehingga gadis-gadis dusun yang belum menikah, juga berusaha menyiram kotoran ke tubuh Bhikkhu, mengira dengan tindakan sesat ini bisa mendatangkan kesejahteraan. Demikianlah kabar sesat ini tersebar dari satu mulut ke mulut lainnya, bahkan menyebar hingga pelosok negeri, semua penduduk juga mengira tindakan sesat ini sebagai sebuah kebajikan.

Suciwan ini yang khawatir bila manusia terus melakukan dosa besar ini,  sehingga menggunakan kemampuan gaib terbang ke angkasa dan beranjak pergi, sejak itu takkan lagi berpindapatra ke dusun tersebut.

Pada saat itu di dusun tersebut sudah tidak tampak lagi adanya anggota Sangha, selanjutnya ada pertapa yang memiliki lima jenis kemampuan gaib datang ke dusun itu, para penduduk dusun juga melakukan hal serupa menuangkan kotoran ke tubuh si pertapa.


097



Suatu hari, ada seorang anggota Sangha yang telah mencapai Pratyeka Buddha, datang ke dusun ini untuk berpindapatra, pada waktu itu putri sesepuh ini melihat kedatangan Suciwan, menyiram kotoran ke tubuhNya, kebetulan pula pada hari itu ada orang yang datang melamar si putri sesepuh ini.

Abang putri ini jadi merasa heran dan bertanya : “Kenapa hari ini bisa ada orang yang datang melamar ya?”

Putri sesepuh ini berkata : “Hari ini saya menuang kotoran ke tubuh Bhikkhu”.


096


dia terlahir di keluarga raja, bertemu dengan Saya (Buddha Sakyamuni) dan mencapai Arahat. Tetapi oleh karena karma pembunuhan yang dilakukannya pada masa kehidupan lampau, sekarang telah berbuah, tetap saja tidak bisa terhindar dari dibunuh dengan pedang dan panah, lalu memasuki Nirvana”.  

Para Bhikkhu bertanya pada Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Jalinan jodoh yang bagaimana, sehingga putra mahkota Ding Ji, beserta penduduk Kota Shengyin dan Yang Ariya Mahakatyayana dan lain sebagainya, ditimpa tanah, lalu mengapa pula Li Yi dan Chu Huan, dua pejabat setia malah bisa membawa permata keluar dari kota?”

Buddha Sakyamuni memberitahu para Bhikkhu : “Benih karma yang ditabur oleh orang-orang ini, bertemu dengan faktor pendukungnya, segala benih karma yang ditabur takkan hilang, begitu benih karma berbuah, akibatnya juga diterima oleh diri sendiri. Kalian dengarlah dengan seksama  :

Pada masa kehidupan lampau, di sebuah dusun terdapat seorang sesepuh yang meminang seorang istri, tidak lama kemudian melahirkan seorang putra dan seorang putri, setelah dewasa, sang putra menikah dan berkarir, gadis sebaya lainnya di dusun juga telah menikah, yang tersisa hanya putri sesepuh ini yang masih juga belum dipinang orang.


095



semoga dengan jasa kebajikan ini pula dapat bertemu dengan seorang Maha Guru, memberi persembahan padaNya, hati takkan pernah merasa jenuh”.  

Buddha Sakyamuni membabarkan pada para Bhikkhu :
“Para Bhikkhu sekalian, pada masa kehidupan lampau si pemburu yang memanah Bhikkhu Pratyeka Buddha, sekarang adalah Bhikkhu Xian Dao yang dibunuh, oleh karena karma pembunuhan yang diperbuatnya, setelah meninggal dunia, jatuh ke Neraka.  

Kemudian setelah hukuman yang dijalaninya di Neraka selesai, dia terlahir jadi manusia, selama 500 kelahiran, selalu dibunuh oleh pedang dan panah, buah akibat dari karma pembunuhannya sungguh membuat orang jadi takut. Untunglah saat itu dalam waktu seketika juga dia membangkitkan pertobatan dengan setulusnya dan berikrar, oleh karena kekuatan dari jasa kebajikan ini,


094



Pemburu yang dungu itu melihat Bhikkhu itu terbang ke angkasa, memperlihatkan beragam kemampuan gaib, menyadari bahwa Bhikkhu itu telah mencapai tingkat kesucian, sehingga memohon pertobatan padaNya, memohon padanya supaya turun ke daratan. Bhikkhu turun dari angkasa, lalu meninggal dunia.

Pemburu memperabukan jenazah  Suciwan, menyimpan abu kremasi, mendirikan stupa dan memberi persembahan. Pemburu itu demi menghapus karma buruknya, dengan beragam persembahan, melakukan namaskara, menangis dan bertobat, mengikrarkan tekad : “Semoga jangan karena karma pembunuhan ini sehingga jatuh ke Alam Binatang, Alam Setan Kelaparan dan Neraka, tiga alam penderitaan ini dan menjalani siksaan; semoga jasa kebajikan dari persembahan ini, kelak saya dapat terlahir di keluarga raja, memiliki harta benda berlimpah dan hidup serba berkecukupan,


093



Buddha Sakyamuni berkata : “Pada jaman dahulu kala, ketika tidak ada Buddha yang membabarkan Dharma di dunia, hanya ada Pratyeka Buddha yang muncul di dunia, kala itu ada seorang Bhikkhu yang telah mencapai Pratyeka Buddha, dia mengasihi para makhluk, menolong orang yang miskin dan kesusahan, senantiasa merasa cukup, tidak banyak keinginan, merupakan satu-satunya ladang berkah di dunia saat itu. 

Kemudian, sebelum Bhikkhu ini datang ke hutan, sudah banyak rusa jantan yang berkeliaran di sana, pemburu sering memasang perangkap di hutan ini, maka itu memperoleh hasil banyak rusa jantan. 

Tetapi tiba-tiba pada suatu hari si pemburu tidak memperoleh hasil sama sekali, sehingga dia merasa heran, lalu mencari penyebabnya. Pemburu melihat ada jejak kaki manusia, lalu mengikuti jejak kaki tersebut hingga sampai di tempat keberadaan Bhikkhu Pratyeka Buddha. 

Pemburu berkata dalam hati : Oh ternyata orang ini tinggal di hutan ini, pantas saya tidak memperoleh hasil apapun. Pemburu ini jadi marah besar, memanah Bhikkhu tersebut. Pratyeka Buddha mengasihani si pemburu yang dungu (moha), dengan kemampuan gaib terbang ke angkasa, menampilkan beragam kemampuan gaib padanya. 


092



keduniawian, mencapai tingkat kesucian Arahat, lalu tidak dapat menghindari dibunuh?”

Buddha Sakyamuni membabarkan pada para Bhikkhu : “Kalian dengarlah dengan seksama : Karma buruk yang dilakukan oleh Bhikkhu Xian Dao pada masa kehidupan yang lampau, sekarang bertemu dengan faktor pendukung dan buah akibatnya jadi masak, harus diterima sendiri, tidak ada tempat untuk menghindarinya”.

Buddha Sakyamuni mengucapkan gatha :
“Meskipun telah melewati ratusan kalpa lamanya,
benih karma yang ditabur takkan hilang,
ketika benih sebab bertemu dengan faktor pendukungnya,
buah akibatnya juga diterima diri sendiri”.


091


ini merupakan hal yang bersukacita, tetapi ketika ditimpa oleh tanah di Kota Shengyin, ini merupakan hal yang duka”.

Yang Ariya menceritakan pada para Bhikkhu tentang Raja Ding Ji yang membunuh ayahnya seorang Arahat dan Kota Shengyin yang dikubur tanah, dan lain sebagainya.

Para Bhikkhu setelah mendengar kisah sebuah jalinan jodoh dari Yang Ariya berkata : “Orang yang membunuh ayahnya, membangkitkan pandangan sesat, akibat karmanya diterima dalam kehidupan sekarang juga, setelah meninggal dunia jatuh ke Neraka. Siksaan yang akan diterimanya, siapa yang dapat mewakili menjalaninya?”


Benih Karma yang ditabur takkan hilang, diri sendiri yang menerima akibatnya

Para Bhikkhu setelah mendengar pengalaman Yang Ariya Mahakatyayana dalam pengembaraannya menyelamatkan para makhluk, jadi mengajukan pertanyaan pada Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Mohon bermaitri karuna membabarkan pada kami benih karma apa yang telah diperbuat oleh Bhikkhu Xian Dao, sehingga menjadi seorang raja? Dan mengapa pula setelah menikmati berbagai kesenangan duniawi, meninggalkan tahta kerajaan dan meninggalkan


090


Pada saat itu Yang Ariya Maha-katyayana yang sedang berada di Kota Shengyin melihat Langit menurunkan hujan tanah, mengetahui bahwa kekuatan karma ini tidak bisa diselamatkan; hanya bisa melihat tanah mengubur kota.

Sementara itu dayaka juga diterbangkan keluar dengan kemampuan gaibNya, setelah melewati beberapa kerajaan, akhirnya tiba di sebuah kerajaan kecil, bertepatan itu raja kerajaan tersebut mangkat dan tidak ada penerus tahta, penduduk negeri tersebut mengetahui tentang kemampuan gaib dan etika moral Yang Ariya sehingga memohon untuk mengangkat anak laki-laki ini menjadi raja. Yang Ariya menyetujui permohonan rakyat negeri tersebut.

Kemudian, Yang Ariya Mahakatyayana tiba di Kerajaan Sravasti, mendapat sambutan hangat para Bhikkhu lainnya, mereka bertanya : “Avuso (sahabat), bagaimana dengan perjalanan anda, apakah menyenangkan?”

Yang Ariya menjawab : “Ada suka dukanya”.

Para Bhikkhu tidak memahami perkataannya sehingga menanyakan alasannya.

Yang Ariya berkata : “Saya dapat menuju ke berbagai tempat untuk menyelamatkan para makhluk,


Senin, 25 Januari 2016

089


(melempari anggota Sangha dengan tanah), kelak akan menerima buah akibat yang bagaimana”.

Yang Ariya memberitahu dua pejabat setia tersebut : “Tujuh hari kemudian, Langit akan menurunkan hujan tanah, seluruh kota akan terkubur dalam tanah dan tidak ada satupun yang bisa lolos”.

Dua pejabat setia menitipkan anak laki-laki kepada Yang Ariya Maha-katyayana sebagai dayakaNya, sedangkan anak perempuan dititipkan kepada Bhikkhuni Sela sebagai dayika.

Seketika itu juga, Langit menurunkan hujan permata, bahkan berlangsung hingga enam hari lamanya, Li Yi dan Chu Huan dua pejabat setia memperoleh permata yang memenuhi dua perahu. Malam harinya mereka mengungsi keluar kota, mengikuti aliran sungai dan tiba di sebuah daerah yang subur, kedua pejabat setia lalu membangun kota masing-masing, dan menetap di sana.

Kembali pada pokok cerita, Raja Ding Ji yang mengutus pasukan prajurit untuk melempari Yang Ariya Mahakatyayana dengan tanah, telah memasuki hari ke-7.

Bhikkhuni Sela dengan menggunakan kemampuan gaib menerbangkan dayika ke Kerajaan Kosambi, berpesan pada sesepuh Kushira untuk memeliharanya.

088


beranjak pergi.

Raja Ding Ji yang setelah melihat dari kejauhan Yang Ariya menghindar dan pergi, lalu bertanya pada pejabat penjilat : “Mengapa Bhikkhu itu melihat Beta lalu segera menjauh?”

Pejabat penjilat menjawab : “Paduka! Bhikkhu itu berpikir dalam hatinya : Tidak boleh membiarkan orang yang membunuh ayahnya ini sempat mengotori tubuhku yang suci. Maka itu dia menghindari paduka dan pergi menjauhi”.

Raja Ding Ji yang mendengarnya langsung emosi, menyuruh setiap prajurit masing-masing mengambil segenggam tanah, melempari kepala Yang Ariya Maha-katyayana. Yang Ariya mengetahui pasukan prajurit hendak datang melemparinya dengan tanah, dengan kemampuan gaibNya menyulap sebuah gubuk, lalu bermeditasi di dalamnya. Pasukan prajurit melempariNya dengan tanah. Saat itu tanah berubah jadi gumpalan yang besar.

Pada saat itu Li Yi dan Chu Huan, dua pejabat tinggi yang merupakan pejabat setia Raja Xian Dao, menyaksikan bagaimana tindakan kurang ajar Raja Ding Ji pada Yang Ariya, membersihkan tanah di tubuh Yang Ariya, bahkan bertanya pada Yang Ariya : “Insan yang penuh kebajikan! Sekarang penduduk kota melakukan hal yang tidak bermanfaat


087


Raja Ding Ji berkata : “Beta telah melihat semuanya”.

Lagi-lagi pejabat penjilat menghasut : “Paduka! Ketahuilah bahwa di dunia ini tidak ada Arahat, apa yang dikatakan Sramana untuk mengakhiri tumimbal lahir, takkan ada lagi kelahiran berikutnya, merupakan kebohongan besar yang mengelabui manusia di dunia”.

Raja Ding Ji yang mendengar hasutan pejabat penjilat, mulai meragukan adanya Arahat, sejak itu membangkitkan pikiran sesat, bahkan menurunkan titah untuk melarang memberi persembahan kepada anggota Sangha.

Pada saat itu di dalam Kerajaan Shengyin, seluruh persembahan makanan untuk para anggota Sangha sudah terputus. Seluruh anggota Sangha jadi tidak memiliki makanan dan minuman, sehingga memilih meninggalkan Kerajaan Shengyin, hanya tersisa Yang Ariya Mahakatyayana dan Bhikkhuni Sela (dua Arahat besar) yang tinggal di luar Kota Shengyin.

Pada suatu pagi, Yang Ariya Mahakatyayana membawa patraNya, hendak memasuki Kota Shengyin untuk berpindapatra, tiba-tiba bertemu dengan Raja Ding Ji yang hendak pergi berburu.

Yang Ariya berpikir dalam hati : Jangan sampai Raja Ding Ji melihat diriKu, daripada menyebabkan beliau tidak gembira. Kemudian Yang Ariya menghindar dan


086



Pada saat itu, dua orang papamitra (sahabat jahat), yakni dua pejabat penjilat sedang membawa dua potong daging, sambil berteriak memanggil : “Disa! Busa! Keluarlah kalian!”

Kedua ekor anak kucing, oleh karena telah mengenali suara ini, sehingga begitu dipanggil langsung keluar dari lubang bawah stupa. Dua pejabat penjilat lalu berkata pada dua anak kucing tersebut : “Disa! Busa! Ketika kalian masih hidup di dunia, dengan perkataan sesat untuk memperdayai manusia, menerima persembahan jubah dan makanan dari orang-orang yang mempercayai dirimu, oleh karena karma buruk ini, makanya jatuh ke dalam kandungan kucing, apabila ucapanku ini adalah benar adanya, kalian masing-masing sambil menggigit potongan daging sambil mengelilingi stupa lalu kembali ke lubang.”

Setelah ucapan ini selesai, barulah mulai menaruh potongan daging. Anak kucing yang setelah memperoleh daging segera mengikuti kebiasaan mengelilingi stupa lalu masuk kembali ke lubang.

Pejabat penjilat memberitahu raja : “Paduka! Apakah anda telah melihatnya?”


085



Pejabat penjilat menjawab : “Jika paduka tidak percaya, boleh langsung pergi ke stupa untuk membuktikannya”.

Raja Ding Ji menitahkan para pejabat : “Beta akan pergi ke stupa Disa dan Busa untuk mencari kebenaran, kalian boleh ikut pergi bersamaku”.

Dalam sekejab rombongan raja dan pejabat tiba di stupa Disa dan Busa, dua Arahat tersebut.



084



semua orang telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Disa dan Busa, dua orang Bhikkhu mencapai Arahat. Mereka terbang ke angkasa menjelma jadi air dan api, setelah menampilkan beragam kemampuan gaib, memasuki Nirvana, kenapa kalian malah mengatakan Mereka hanya berpura-pura saja?”

Pejabat penjilat berkata : “Mohon paduka mengampuni dosa hamba, saya akan menjelaskan hal ini secara terperinci”.

Raja bertanya : “Hal apa gerangan?”

Pejabat penjilat menjawab : “Para Bhikkhu itu hanya berpura-pura dan menyesatkan orang banyak, sesungguhnya mereka masih bertumimbal lahir, malah berkata telah mengakhiri roda samsara; kalau memang perkataan mereka adalah benar adanya, mengapa Disa dan Busa, dua orang Bhikkhu ini masih terlahir jadi anak kucing, tinggal di bawah stupa?”

Raja bertanya : “Bagaimana kalian mengetahui bahwa Disa dan Busa, dua Arahat besar ini, bertumimbal lahir jadi anak kucing?”


083



terbang saja ke angkasa dan pergi?”

Dua pejabat penjilat berkata : “Paduka buat apa harus gelisah? Di dunia ini sesungguhnya tidak ada Arahat, mengutus orang membunuhnya, mana ada dosanya?”

Raja berkata : “Kalian bilang di dunia ini tidak ada Arahat, tetapi Beta dan


082


Raja Ding Ji berkata : “Meskipun saya tidak melakukan karma buruk membunuh ayah, tetapi apakah membunuh Arahat tidak ada dosanya?”

Ibu Suri menjawab : “Hal ini boleh ditanyakan pada orang bijak, untuk memeriksa kebenarannya”.

Kemudian Ibu Suri pamit dan kembali ke tempat kediamannya, memberitahu dua pejabat penjilat : “Kekhawatiran paduka akibat membunuh ayahnya, saya telah berhasil menghapusnya, sedangkan kecemasan paduka karena membunuh Arahat akibatnya jatuh ke Neraka Avici, ini harus mengandalkan keahlian kalian”.

Raja Ding Ji yang demi menghapus keraguan di hatinya, maka memanggil para pejabat dan orang-orang bijak, bertanya pada mereka : “Beta mendengar bahwa membunuh Arahat hukumannya pasti berat, apakah hal ini adalah benar adanya?”

Pada saat itu di antara para pejabat, ada seorang pejabat tinggi yang berkata : “Paduka! Siapa yang mengetahui apakah dia benar telah mencapai Arahat?”

Ada lagi yang berkata : “Suciwan yang telah mencapai Arahat memiliki kemampuan gaib yang bebas tanpa rintangan, harusnya terlebih dahulu bisa mengetahui ada orang yang hendak mencelakainya, kenapa tidak


081


mengetahui hal ini, tetapi sesungguhnya mereka menyesatkan orang banyak, mengatakan bahwa mereka takkan bertumimbal lahir lagi, siapa yang mengetahui mereka ternyata setelah wafat, bertumimbal lahir jadi anak kucing. Inilah buktinya bahwa di dunia ini tidak ada Arahat”.

Ibu Suri berkata : “Saya harus memeriksa masalah ini dengan teliti, bila memang benar adanya, maka dapat menghapus kekhawatiran di hati putraku”.

Ibu Suri yang demi menghapus kegelisahan di hati putranya, datang mengunjungi raja : “Putraku, mengapa kamu jadi begitu kurus dan lemah?”

Raja Ding Ji memberitahu Ibu Suri : “Oleh karena dua pejabat penjilat itu mengajariku melakukan dua butir Pancanantariya Karma, akibatnya bisa jatuh ke Neraka Avici, raja terdahulu yang tidak bersalah malah dibunuh, Beliau adalah Arahat, maka itu saya pasti akan jatuh ke Neraka Avici”.

Ibu Suri memberitahu Raja Ding Ji : “Kamu tidak perlu terlampau cemas, saya akan menjelaskan padamu : raja terdahulu bukanlah ayahmu. Oleh karena tempo dulu  ketika saya sedang membasuh tubuh, melakukan hubungan intim dengan orang lain, kemudian mengandung dirimu. Kini kamu membunuh raja terdahulu, tidak bisa disebut sebagai Pancanantariya Karma”.