Senin, 08 Februari 2016

192


Akibat Menfitnah Guru

Ketika Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma di kampung halamanNya, yakni Kota Kapilavastu, pada suatu hari, Raja Suddhodana bertanya pada Buddha Sakyamuni : “Sang Buddha muncul di dunia membawa manfaat apa, sehingga para makhluk memperoleh kedamaian?”

Buddha Sakyamuni memberitahu Raja Suddhodana : Di Kota Sravasti, di rumah dermawan Anathapindika ada seorang pelayan wanita yang telah lanjut usia yang bernama Pi Di-luo, dia begitu rajin mengurus rumah, oleh karena itu, dermawan mempercayakan padanya untuk menyimpan kunci gudang, setiap pemasukan dan pengeluaran segala harta benda juga ditanganinya, boleh dikatakan dia merupakan pengurus rumah tangga dermawan.  

Kadang kala, dermawan Anathapindika hendak memberi persembahan kepada Buddha dan Sangha, atau ada anggota Sangha yang jatuh sakit sehingga memerlukan sejumlah biaya pengeluaran, pengurus rumah tangga ini jadi agak kikir dan tidak rela, bahkan mengeluh tentang Buddha dan Sangha : “Majikan kita dungu, kena pengaruh ilmu sihir para Sramana, para pengemis itu rakusnya bukan main, mana ada etika moralnya?”


Minggu, 07 Februari 2016

191



Raja Fan Shou setelah mendengar pembabaran dari Buddha Sakyamuni tentang sebab akibat, segera berkata : “Benar seperti apa yang dikatakan oleh Bhagava!”

Bodhisattva Da Yi mempergunakan kesempatan tersebut untuk bertanya pada Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Jika ada makhluk yang menggunakan uang vihara untuk kepentingan pribadi, apa buah akibat yang akan diterimanya?”

Buddha Sakyamuni menjawab pertanyaan Bodhisattva Da Yi : “Andaikata ada orang yang menggunakan uang vihara atau harta benda milik Sangha, maka orang ini telah melakukan dosa sepuluh penjuru, saat menjelang ajal pasti jatuh ke Neraka Avici, menjalani siksaan besar”.   

(以上事見《廣大蓮華莊嚴曼拏羅滅一切罪陀羅尼經》、《寶梁經》、
《大方等大集經》卷四十四、《大乘大集地藏十輪經》卷三)


190



Sedangkan mengenai sakit kepala yang dialami raja, Buddha Sakyamuni melanjutkan membabarkan pada Ananda : “Raja Fan Shou menderita sakit kepala, dikarenakan tempo hari ketika berkunjung ke Arama, anggota Sangha meminta Bhikkhu Pengurus untuk mempersiapkan karangan bunga untuk menyambut kedatangan raja, Bhikkhu Pengurus bernama Jing-jun, oleh karena usianya masih muda dan tidak tahu akibatnya, dia masuk ke ruang kebaktian untuk mencari karangan bunga, lalu mengambil karangan bunga yang dikenakan pada rupang Buddha, kemudian dipersembahkan kepada raja.

Raja menerimanya lalu mengenakannya di atas kepala, dalam waktu seketika, timbul rasa sakit di kepalanya”.