Selasa, 02 Februari 2016

157


Dengan cepat berita ini meluas hingga ke seluruh pelosok kota, penduduk kota saling bergunjing bahwa Bhikkhu Da Ge-luo tinggal di kuburan makan daging orang mati, akhirnya mereka berduyun-duyun menuju ke hutan pembuangan mayat untuk memeriksa kebenarannya.

Setelah berdiskusi akhirnya mereka memutuskan untuk berpura-pura mengadakan upacara kematian, lalu mengutus salah seorang penduduk untuk menyamar jadi orang mati, sementara penduduk lainnya berpura-pura jadi keluarga dan kerabat mendiang.

Setelah dilumuri dengan minyak kunyit, orang yang berpura-pura mati disuruh berbaring di atas tandu, lalu disembahyangi dengan makanan sesajian, kemudian tandu diangkat para penduduk keluar kota, sampai di hutan pembuangan mayat (hanya membuang jasad ke hutan tanpa dikubur). 

Pada saat itu Bhikkhu Da Ge-luo yang melihat bahwa selama beberapa hari ini tidak ada orang yang meninggal dunia, sehingga mengambil patranya bersiap-siap menuju ke kota untuk berpindapatra, di tengah jalan dia melihat ada sekelompok orang yang sedang mengangkat tandu orang mati untuk dimakamkan, Bhikkhu Da Ge-luo segera kembali ke dalam hutan, bersiap-siap untuk memakan sesajian sembahyang.




156



Mengapa saat banyak orang yang meninggal dunia, tubuhnya jadi gemuk, ketika jarang ada orang yang meninggal dunia, tubuhnya jadi kurus, apakah mungkin Suciwan Da Ge-luo makan daging orang mati?

Demikianlah gunjingan ini beredar dari mulut ke mulut, akhirnya semakin meluas dan orang-orang jadi percaya karenanya, masyarakat di kota ada yang mendengar perkataan yang dilontarkan oleh penjaga gerbang kota, Bhikkhu Da Ge-luo mungkin makan mayat. 



155



Kisah Bhikkhu Da Ge-luo
Difitnah makan daging mayat manusia

Ketika Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma di Taman Jetavana di Kerajaan Sravasti, Bhikkhu Da Ge-luo yang telah mencapai Arahat selalu berdiam di tempat pembuangan mayat manusia, untuk melatih perenungan terhadap tubuh jasmani yang tidak bersih.

Setiap hari dia mengganjal perutnya dengan sesajian sembahyang untuk para mendiang. Maka itu setiap kali harus menanti ada orang yang meninggal dunia lalu dikubur dan ada makanan sesajian, barulah dia bisa memperoleh sedikit makanan, bila tidak, maka harus menahan lapar hingga tubuhnya jadi kurus. Kecuali bila terpaksa maka dia akan membawa patranya memasuki kota untuk berpindapatra.

Pada saat itu pengawal gerbang kota merasa heran dan bertanya dalam hati : Mengapa Bhikkhu Da Ge-luo seringkali tidak masuk ke kota untuk berpindapatra?