Senin, 08 Februari 2016

195



Rahula mengikuti di belakang Sang Buddha.

Pelayan tua ketika melihat Buddha Sakyamuni, panik dan ketakutan hingga bulu kuduknya juga ikut berdiri, berbicara sendiri dan menjauh. Dia ingin keluar melalui lubang anjing, di luar dugaan ternyata lubang anjing tidak bisa dilewati, seluruh pintu gerbang di empat penjuru juga sudah ditutup, hanya pintu gerbang utama yang masih terbuka.

Pelayan tua menutupi wajahnya dengan kipas sambil berjalan keluar, tiba-tiba Buddha Sakyamuni berdiri di hadapannya, seketika itu kipasnya berubah jadi transparan bagaikan kaca, tiada rintangan.

Dia melihat ke arah timur, di arah timur juga ada Buddha; selatan, barat, utara juga ada Buddha berada. Dia menengadah ke



194


Istri Anathapindika menjawab : “Ratu! Angulimala merupakan orang yang amat jahat, namun Sang Buddha juga dapat menyelamatkannya, apalagi seorang pelayan tua?”

Ratu Mallika setelah mendengarnya jadi begitu gembira dan berkata : “Baiklah, besok saya akan mengundang Bhagava ke istana untuk menerima persembahan, saat itu undanglah pengurus rumahmu itu untuk ikut serta ke istana”.

Keesokan harinya, Raja Prasenajit dan Ratu Mallika ketika hendak memberi persembahan kepada Buddha Sakyamuni, dermawan Anathapindika menyuruh pelayan tua untuk membawa guci yang penuh berisi emas dan permata, untuk mendukung raja memberi persembahan kepada Buddha dan Sangha.  

Pelayan tua mendengar dirinya berkesempatan masuk ke istana, sehingga dengan senang hati membawa guci permata ke istana. Ratu Mallika melihat kedatangan pelayan tua, amat gembira dan berkata : “Orang yang berpandangan sesat ini, andaikata Bhagava menyelamatkannya, saya pasti dapat memperoleh manfaat Dharma dari hal ini”.

Pada saat itu, Buddha Sakyamuni masuk ke dalam istana melalui gerbang utama, Yang Ariya Nanda berjalan di samping kiri Sang Buddha, Yang Ariya Ananda berjalan di samping kanan Sang Buddha, Yang Ariya



193



Dia juga tiada hentinya melontarkan kutukan : “Harus menunggu sampai kapan barulah saya takkan mendengar nama Buddha lagi, takkan mendengar nama Sangha lagi?”

Nama jelek si pengurus rumah jadi tersebar ke seluruh pelosok Kota Sravasti, Ratu Mallika juga mendengar perkataan begini, ratu merasa amat prihatin dan berkata : “Sifat dermawan Anathapindika agung bagaikan Bunga Teratai, tetapi kenapa bisa mempunyai seorang pelayan tua yang hatinya bagaikan ular berbisa?”

Maka itu Ratu Mallika berkata pada istri Anathapindika : “Pelayan tua di rumah kalian mengucapkan kata kasar yang menfitnah Triratna, kenapa tidak diusir saja keluar?”