Rabu, 02 Januari 2019

PETA SITUS NIAT BENAR

  • PETA SITUS NIAT BENAR
  • SITEMAP AJARAN SUKHAVATI
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 001~025
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 026~050
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 051~075
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 076~100
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 101~125
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 126~150
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 151~175
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 176~200
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 200~225
  • Kemampuan Gaib dan Akibat Karma 226~227
  • Jumat, 12 Februari 2016

    227 ~ Tamat



    Saat itu Buddha Sakyamuni mengasihinya, dengan kekuatan kewibawaanNya memberkati Maudgalyayana, barulah Yang Ariya mampu merenungkan, kembali pada rupanya semula.  

    Ternyata  kakek tua ini pada masa kehidupan lampau adalah ayah Maudgalyayana. Pada masa kelahiran lampaunya, Maudgalyayana pernah bertengkar dengan ayahnya, saat itu muncul sebersit niat pikirannya : Cambuk saja orang tua ini biar tulangnya patah, barulah hatiku jadi senang.

    Oleh karena sebersit niat jahat ini, sehingga pada masa kehidupan sekarang dia menerima buah akibat seperti ini.

    Yang Ariya Maudgalyayana setelah menerima pelajaran Hukum Karma kali ini, sejak itu takkan lagi berani meremehkan buah akibat karma. Maka itu, Yang Ariya Maudgalyayana menasehati orang banyak sebanyak tiga kali : “Janganlah tidak berbakti pada ayahbunda, guru dan senior, hati-hati dalam melontarkan perkataan dan menjaga pikiran agar tidak timbul niat buruk. Bila tidak demikian, maka akibatnya juga diterima sendiri, buah akibat karma sulit dihindari”.

    (事見《眾經撰雜譬喻》卷上)


    Tamat



    226



    Meskipun Buddha Sakyamuni berkata sedemikian rupa, namun Maudgalyayana yang merasa kemampuan gaibnya begitu hebat, sama sekali tidak peduli pada “kekuatan karma”, lalu dengan kemampuan gaibnya terbang tinggi ke angkasa.

    Tetapi tiba-tiba terdengar suara “Ba La”, Maudgalyayana jatuh dari angkasa tepat di depan jari-jari roda gerobak milik seorang kakek tua. Pada saat ini, Yang Ariya Maudgalyayana oleh karena pengaruh kekuatan karmanya, berubah jadi buruk rupa kayak setan, kakek tua mengira itu adalah benda jahat dan sesat, sehingga mengangkat jari-jari roda gerobak dan memukuli Maudgalyayana sehingga Yang Ariya menderita patah tulang.

    Yang Ariya Maudgalyayana dipukul, sakitnya bukan main, hingga tidak sanggup menahan rasa sakit yang luar biasa, akibatnya pikirannya jadi kacau balau, kemampuan gaib apapun tidak mampu ditampilkan keluar.


    225



    Maha Maudgalyayana (Pali: Maha Moggallana) merupakan siswa utama Buddha Sakyamuni yang memiliki kemampuan gaib terunggul diantara para siswa Sravaka. Pada suatu hari, Buddha Sakyamuni mengingatkan Maudgalyayana : “Musuh kerabat penagih hutangmu akan segera tiba”.

    Maudgalyayana sama sekali tidak mempedulikan hal ini, dia memberitahu pada Buddha Sakyamuni : “Bhagava! Saya memiliki kemampuan gaib, mana  mungkin takut pada musuh kerabat penagih hutang? Apabila kekuatan karma menyerang dari arah Timur, maka saya akan lari ke arah barat; bila datang dari arah utara, saya lari ke arah selatan, bagaimana mungkin bisa mengenai diriku?”

    Buddha Sakyamuni menasehatinya lagi : “Maudgalyayana! Kekuatan karma tidak dapat dihindari”.


    224



    Kekuatan Karma Melampaui Kemampuan Gaib, Menerima Akibat Perkataan Yang Dilontarkan Keluar

    Buddha Sakyamuni dalam membimbing para siswaNya senantiasa mengingatkan mereka bahwa : “Kekuatan karma melampaui kemampuan gaib” dan “Menerima akibat perkataan yang dilontarkan keluar”.

    Para makhluk, tak peduli karma baik maupun karma buruk yang mereka lakukan, kekuatan karma ini melampaui segala jenis kemampuan gaib, seperti perumpamaan kisah Yang Ariya You Tuo-yi dan Bhikkhu Xian Dao, mereka ini telah memperoleh kekuatan gaib sempurna, yang bebas tanpa rintangan, tetapi ketika karma berbuah, kemampuan gaib yang dimiliki juga sama sekali tidak bisa efektif.  


    Kamis, 11 Februari 2016

    223



    Para murid yang mendengarnya semuanya merasa amat bersukacita, segera memuji Triratna, yakni Buddha, Dharma dan Sangha, merupakan kejayaan besar, sungguh merupakan ladang berkah yang tertinggi tiada duanya di dunia ini.

    (事見《根本說一切有部毗奈耶出家事》卷四、
    出家事
    《福蓋正行所集經》卷五)




    222



    Bhikkhu Arahat kemudian menceritakan kepada semua hadirin tentang kisah gurunya yang sebelum meninggalkan keduniawian, membunuh ibu kandungnya sendiri, kemudian setelah wafat jatuh ke Neraka Avici, oleh karena jasa kebajikan membangun kamar mandi untuk para anggota Sangha membersihkan raga, memperoleh pemberkatan dari Buddha, sehingga terlahir di Surga Catur Maharaja Kayika menjadi Dewa, kemudian di hadapan Buddha mendengar pembabaran Dharma dan mencapai tingkat kesucian pertama, Sotapanna.


    221



    Bhikkhu Arahat memberitahu Bhikkhu kecil : “Kamu bertanya tidak pada waktu dan tempatnya, kecuali pada saat para Bhikkhu sedang berkumpul pada satu ruangan, kamu mengajukan pertanyaan ini, maka saya pasti akan menjawabnya”.

    Kemudian ketika para Bhikkhu berkumpul bersama, Bhikkhu kecil itu di hadapan orang banyak bertanya pada Bhikkhu Arahat : “Senior! Beberapa hari yang lalu saya melihat anda kegirangan dan tertawa, apakah ini dikarenakan kini anda menduduki jabatan ketua vihara, sehingga merasa senang?”


    220



    Setelah berpikir demikian, lalu Bhikkhu Arahat menggunakan kekuatan gaibnya mengamati Neraka, tetapi tidak tampak gurunya, lalu mengamati Alam Manusia, Alam Binatang dan Alam Setan Kelaparan, juga tidak tampak gurunya,  lalu mengamati Alam Surga, akhirnya melihat gurunya ada di Surga Catur Maharaja Kayika, bahkan telah menghadap Buddha Sakyamuni dan mencapai tingkat kesucian Sotapanna.

    Saat itu Bhikkhu Arahat merasa terhibur dan tersenyum berkata : “Buddha, Dharma dan Sangha sungguh menakjubkan, orang yang dosanya amat berat yang jatuh ke Neraka Avici, oleh karena jasa kebajikan yang unggul sehingga dapat terlahir ke Alam Surga”.

    Saat itu Bhikkhu kecil yang melihat Bhikkhu Arahat begitu kegirangan, sehingga bertanya : “Guru! Apakah karena kini anda sudah jadi kepala vihara maka begitu senang dan kegirangan?”


    219


    bernamaskara pada Bhagava, menaburkan beraneka jenis bunga istimewa di atas puncak kepala Sang Buddha, bunga-bunga yang jumlahnya banyak sehingga menumpuk hingga melewati atas lutut.

    Setelah selesai melakukan berbagai penghormatan dan persembahan kepada Buddha Sakyamuni, lalu duduk di hadapan Bhagava sambil mendengar pembabaran Buddha Dharma. Buddha Sakyamuni membabarkan pada Dewa tentang Empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariyasaccani), Dewa segera mencapai tingkat kesucian pertama yakni Sotapanna, kemudian Dewa mengucapkan gatha, selesai mengucapkan gatha, bernamaskara dan berterimakasih pada Buddha Sakyamuni lalu pulang kembali ke Surga.

    Sebagian murid-murid Dharma Master adalah Arahat, pada hari itu ada dermawan yang datang ke vihara memberi persembahan kepada Sangha, pada waktu menerima persembahan, murid kecilnya menimba air dari sumur kemudian menuangkan air segar tersebut ke dalam patra, Bhikkhu Arahat yang menerima persembahan air, menggunakan jarinya menyentuh air segar tersebut, merasakan betapa sejuknya air ini, tiba-tiba teringat pada guru mereka yang masih berada di Neraka Avici malah minum cairan tembaga yang mendidih.


    218



    Surga Catur Maharaja Kayika, oleh karena membangun kamar mandi, membersihkan tubuh jasmani para Bhikkhu, dengan kekuatan berkah ini dan terlahir di Surga.

    Saat itu Dewa ini (Dharma Master) berpikir : Oleh karena upaya kausalya Dharma ajaran Bhagava, sehingga saya terlahir di Alam Surga, kini seharusnya saya menuju ke hadapan Bhagava untuk memberi persembahan, membalas budi Buddha.

    Oleh karena kekuatan berkah surgawi, sehingga dengan sendirinya mempunyai beragam permata yang memenuhi sekujur tubuhnya, pada malam itu juga, tubuhnya memancarkan cahaya, menyinari Taman Jetavana, datang ke hadapan Buddha Sakyamuni,


    217



    Dharma Master yang membunuh ibu kandungnya, ketika berada di Neraka, tubuhnya dibakar oleh api yang membara, dia jadi teringat akan kamar mandi yang dibangun, sehingga berteriak dengan suara keras : “Kamar mandi! Kamar mandi! Api membara membakar diriku hingga begitu tersiksa!”

    Penjaga pintu neraka menggunakan alat penumbuk vajra untuk memukul kepalanya, memberitahukan padanya : “Dasar orang terhukum! Di sini adalah Neraka Avici, kenapa kamu mengatakan adalah kamar mandi?”

    Ketika pengawal neraka menggunakan alat penumbuk vajra untuk memukul kepala Dharma Master, seketika itu juga Dharma Master membangkitkan pikiran baik, memohon pemberkatan maitri karuna Sang Buddha, seketika juga ajalnya berakhir, terlahir di Surga Catur Maharaja Kayika menjadi Dewa.

    Setiap Dewa yang baru terlahir akan timbul tiga bentuk pikiran :
    1, Darimana daku berasal?
    2, Sekarang saya terlahir di mana?
    3, Apa sebab dan kondisinya sehingga terlahir di sini?

    Setelah terpikir akan hal ini, maka dia akan menggunakan kemampuan gaib untuk melakukan pengamatan, sehingga mengetahui bahwa diri sendiri berasal dari Neraka Avici, sekarang terlahir di



    216


    juga akan jatuh, berkumpul juga pasti akan berpisah, segala yang memiliki kehidupan pasti akan mati”. 

    Selesai berkata dia menghembuskan nafas terakhir, langsung jatuh ke Neraka Avici. Sebagian murid-muridnya yang sudah mencapai Arahat, ingin mengetahui ke mana gurunya akan terlahir? Lalu memasuki samadhi.

    Setelah mengamati Alam Surga, Manusia, Alam Binatang, bahkan hingga Alam Setan Kelaparan juga tidak ketemu. Akhirnya berhasil menemukannya di Neraka Avici.

    Para murid yang telah mencapai tingkatan kesucian jadi curiga : Semasa hidupnya guru menjalankan sila dengan disiplin, kaya pengetahuan, dengan Buddha Dharma menuntun para makhluk, tetapi kenapa malah jatuh ke Neraka Avici? Sebenarnya karma buruk apa yang pernah dilakukan guru sebelum meninggalkan keduniawian? 

    Mereka memasuki samadhi sekali lagi untuk melakukan pengamatan, kemudian melihat guru ketika masih menjadi orang awam, pernah membunuh ibu kandungnya sendiri, sehingga jatuh ke Neraka Avici.


    215



    Para Bhiksu menuruti Dharma lalu mengusir Dharma Master yang telah membunuh ibu kandungnya sendiri. Setelah diusir, dia tidak sudi lepas jubah kembali ke duniawi, akhirnya dia menuju ke daerah perbatasan dan menetap di sana.

    Di daerah perbatasan ini, Dharma Master memberi ceramah Dharma kepada penduduk setempat, oleh karena kebijaksanaan dan berlidah fasih, sehingga menggugah seorang hartawan jadi meyakini Buddha Dharma, hartawan ini amat menghormati Dharma Master, mendirikan vihara untuknya, di vihara ini Dharma Master memberi ceramah Dharma, perlahan para anggota Sangha dari berbagai daerah lainnya juga berdatangan untuk mendengar ceramah Dharma Master ini, bahkan murid-muridnya banyak yang merupakan suciwan yang sudah mencapai Arahat.

    Akhirnya pada suatu hari, Dharma Master terserang penyakit, meskipun sudah diobati namun tak kunjung sembuh, perlahan penyakitnya semakin parah, mengetahui bahwa hidupnya tidak lama lagi, maka berpesan pada murid-muridnya : “Mohon bangun sebuah kamar mandi”. 

    Murid-muridnya menuruti kata Dharma Master membangun kamar mandi. Kemudian Dharma Master mengucapkan gatha : “Apa yang menyatu juga akan berpencar, yang berada di atas



    214



    “Membunuh ibunda”.

    “Ibu kandung?”

    “Ya, ibu kandung!”

    Para Bhiksu kemudian menyampaikan pada Buddha Sakyamuni tentang Dharma Master yang telah membunuh ibu kandungnya dan takut pada dosa berat yang diperbuatnya, sehingga tekun belajar dan menjadi Dharma Master.

    Setelah mendengar hal ini, Buddha Sakyamuni membabarkan : “Bila ada orang membunuh ayahbundanya, lalu memohon untuk ditabhiskan jadi anggota Sangha, dengan membiarkan orang yang telah melakukan dosa berat ini menjadi anggota Sangha, akan merusak Buddha Dharma, harus mengusirnya keluar, tidak boleh membiarkan dirinya tinggal di dalam organisasi Sangha. 

    Mulai sekarang dan selanjutnya di dalam VinayaKu, bila ada orang yang datang memohon ditabhiskan jadi anggota Sangha, haruslah bertanya terlebih dulu padanya, apakah dia pernah membunuh ayahbundanya dan sebagainya, apabila tidak bertanya terlebih dulu dan membiarkannya memasuki Sangha, maka ini melanggar Samaya Sila“.


    213



    Putra brahmana berpikir dalam hati : Ternyata Ajaran Buddha mempunyai cara untuk menghapus dosa, kini saya seharusnya meninggalkan keduniawian untuk menimbun karma baik, untuk menghapus dosa berat akibat membunuh ibunda.  

    Kemudian dia memberitahu pada Bhiksu : “Suciwan! Saya ingin meninggalkan keduniawian dan melatih diri, mohon bermaitri karuna menyelamatkan diriku menjadi anggota Sangha”.

    Para Bhiksu menabhiskannya jadi anggota Sangha dan menurunkan sila padanya. Setelah menjadi anggota Sangha, setiap hari dia begitu giat mempelajari Sutra, Vinaya dan Abhidharma Pitaka, tidak lama kemudian berhasil menguasai Buddha Dharma, berlidah fasih dan pandai dalam berdiskusi.

    Ada seorang Bhiksu yang melihatnya begitu rajin, sehingga bertanya padanya : “Dharma Master! Mengapa anda begitu tekun belajar, apakah ada sesuatu harapan yang ingin terpenuhi?” 

    Dharma Master menjawab : “Demi menghapus dosa beratku barulah saya begitu tekun”.

    “Dharma Master, dosa berat apa yang telah anda perbuat sehingga memohon untuk dihapus?”


    212



    Putra brahmana yang sudah bertanya pada banyak praktisi aliran luar, hasilnya adalah menyarankannya agar bunuh diri untuk menghapus dosanya, tidak ada cara lainnya lagi; tetapi dia sendiri tidak ingin mati.

    Kemudian dia tiba di hutan di mana banyak anggota Sangha sedang melatih diri  di sana. Dia mendengar para Bhiksu sedang membaca sutra, salah satu bait yang dia dengar adalah : “Andaikata ada orang yang melakukan karma buruk, menimbun kebajikan dapat menghapusnya, dapat menerangi dunia, bagaikan mentari muncul di balik awan”.


    211



    Tanpa berkata apa-apa, putri brahmana meninggalkannya di dalam kamar seorang diri, lalu ke lantai atas dan berteriak dengan keras tangkap maling.

    Putra brahmana yang mendengarnya segera melarikan diri. Dia pulang ke rumahnya, lalu membuang pedangnya ke lantai, lalu dengan suara nyaring berteriak : “Pencuri telah membunuh ibu kandungku! Pencuri telah membunuh ibu kandungku!”

    Kemudian memperabukan ibundanya. Setelah itu dia mulai menyesali perbuatannya yang membunuh ibu kandung sendiri, lalu menuju ke berbagai pelosok untuk bertanya pada orang pandai bagaimana caranya agar dia bisa menghapus dosanya. 

    Ada aliran luar yang memberi saran agar dia membakar tubuhnya sendiri, untuk menghapus dosa beratnya; ada pula yang berkata agar dia mendaki gunung lalu melompat ke bawah, dapat menghapus dosa beratnya; ada pula yang berkata : “Membunuh diri dengan melompat ke dalam sungai, bisa menghapus dosa berat”. 

    Selain itu ada pula aliran luar yang berkata bahwa pelaku kejahatan, asalkan ikhlas bunuh diri, maka dapat menghapus dosa beratnya. 


    210



    Namun api nafsu sudah membakar dan membutakan hati putranya, tiada kejahatan yang tidak berani dilakukannya, sehingga mencabut pedang dan membunuh ibundanya. Kemudian buru-buru keluar menuju rumah brahmana jahat untuk menemui putri dambaannya.

    Tetapi ketika bertemu dengan putri dambaannya, dia malah ketakutan sehingga sekujur tubuhnya gemetaran. Melihat hal ini putri brahmana berkata : “Kamu jangan takut, di sini hanya tinggal saya seorang diri saja!”

    “Nona! Demi dirimu saya telah membunuh ibu kandungku sendiri”.

    Putri brahmana berpikir dalam hati : Orang ini benar-benar jahat, ibu kandung sendiri saja bisa dibunuh, apalagi saya adalah orang lain?”


    209



    lalu memindahkan kasurnya ke depan pintu kamar putranya. Sampai tengah malam, putranya berteriak : “Mama! Tolong bukakan pintu, saya mau buang air di luar”.

    Ibunda menjawab : “Saya telah menaruh wadah buang air di kamarmu, kamu buang air di dalam kamar saja, tidak perlu keluar”. 

    Tidak berapa lama kemudian, putranya berteriak lagi : “Mama! Buka pintu!”

    Ibunda juga tidak sudi membukakan pintu, sehingga putranya jadi marah. Ibunda berkata : “Saya tahu kamu hendak ke mana, saya berbuat begitu juga demi kebaikanmu, memikirkan keselamatanmu. Lebih baik saya mati di sini, juga takkan membiarkan dirimu pergi melakukan kejahatan”.